Assalamualaikum,Wr.Wb
Hallo
teman-teman semuanya,selamat datang kembali di blog saya :).
Pada kesempatan
kali ini saya akan membahas mengenai “Framework
For Classroom Assesment In Mathematics (Kerangka Kerja Untuk Penilaian
Kelas Dalam Matematika)”
Sebelum
kita membahas lebih lanjut materi pada kesempatan kali ini, ada baiknya kita
memang benar-benar memahami terlebih dahulu apa itu penilaian sehingga nantinya
kita bisa menjelaskan lebih lanjut apa itu penilaian kelas terutama dalam
matematika.
Pengertian
Penilaian Kelas
Penilaian
adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskrpsi
verbal, analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan.
Penilaian kelas
merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil
belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga
penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari siswa, atau dapat juga diartikan sebagai Proses
pengumpulan & penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk
membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa.
jadi, dapat disimpulkan bahwa penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi.
jadi, dapat disimpulkan bahwa penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi.
Salah
satu prinsip penilaian kelas yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan
siswa. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang
paling tahu tingkat pencapaian belajar siswa yang diajarnya. Selain itu siswa
yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha
meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.
Prinsip-prinsip Penilaian Kelas, yaitu:
Prinsip-prinsip Penilaian Kelas, yaitu:
1.
Validitas
Validitas
berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai
untuk mengukur kompetensi. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan, misalnya kompetensi ” mempraktikkan gerak dasar jalan.”,
maka penilaian valid apabila mengunakan penilaian unjuk kerja. Jika menggunakan
tes tertulis maka penilaian tidak valid.
2.
Reliabilitas
Reliabilitas
berkaitan dengan konsistensi hasil penilaian. Misal, guru menilai dengan unjuk
kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama
bila unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama.
Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan unjuk kerja
dan penskorannya harus jelas.
3. Menyeluruh
Penilaian
harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada
setiap kompetensi dasar. Penilaian harus menggunakan beragam cara dan alat
untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil
kompetensi peserta didik.
4. Berkesinambungan
Penilaian
dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh
gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
5.
Obyektif
Penilaian
harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana,
dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor.
6.
Mendidik
Proses
dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses
pembelajaran bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik
agar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Ciri Penilaian Kelas, yaitu:
1.
Belajar
Tuntas (mastery learning)
Peserta didik tidak diperkenankan
mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan
prosedur yang benar, dan hasil yang baik.
“Jika
peserta didik dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuannya untuk beberapa
mata pelajaran dan diajarkan sesuai dengan karakteristik mereka, maka sebagian
besar dari mereka akan mencapai ketuntasan”.
(John
B. Carrol, A Model of School Learning)
2.
Otentik
Memandang penilaian dan
pembelajaran secara terpadu, Mencerminkan masalah dunia nyata bukan dunia
sekolah , Menggunakan berbagai cara dan kriteria, Holistik (kompetensi utuh
merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap,)
3.
Berkesinambungan
Memantau
proses, kemajuan, dan perbaikan hasil TERUS
MENERUS dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir
Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas.
4.
Berdasarkan
acuan kriteria/ patokan
Prestasi kemampuan peserta didik TIDAK DIBANDINGKAN dengan peserta
kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang
ditetapkan
5.
Menggunakan
berbagai cara dan alat penilaian
Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang
bervariasi. Menggunakan penilaian yang bervariasi: Tertulis, Lisan, Produk,
Portofolio, Unjuk Kerja, Proyek, Pengamatan, dan Penilaian Diri.
Adapun teknik/cara penilaian melalui: Unjuk Kerja
(Performance), Penugasan, (Proyek/Project), Hasil kerja (Produk/Product), Tertulis,
Portofolio (Portfolio), Sikap Diri (Self Assessment)
Tujuan Penilaian Kelas
Tujuan
dari penilaian kelas adalah untuk menghasilkan informasi yang memberikan
kontribusi untuk pengajaran dan proses dan membantu dalam pengambilan
keputusan.
Tujuan
pendidikan matematika adalah untuk membantu siswa menjadi terpelajar secara
matematis. Ini berarti bahwa individu dapat menangani matematika terlibat dalam
masalah dunia nyata (misalnya: alam, masyarakat, budaya-termasuk matematika)
yang diperlukan individu untuk saat ini dan kehidupan masa depan (sebagai warga
negara yang cerdas) dan kehidupan kerja (studi di masa depan atau bekerja) dan
bahwa individu memahami dan menghargai matematika sebagai suatu disiplin ilmu.
Jadi,
tujuan dari kerangka kerja untuk penilaian kelas dalam matematika adalah untuk
membawa tujuan penilaian kelas bersama-sama dengan tujuan pendidikan matematika
dengan cara halus dan koheren, dengan hasil yang optimal untuk proses belajar
mengajar, dan dengan saran konkret tentang bagaimana melaksanakan penilaian
kelas di situasi kelas.
Standar Penilaian Kelas
Ada
beberapa standar penilaian kelas dalam matematika yang
diterbitkan oleh Dewan Nasional Guru Matematika (NCTM). Beberapa standar
tersebut antara lain :
1.
Standar
Matematika
Pada standar ini, penilaian
matematika harus berfokus pada pentingnya matematika. kecenderungan matematika
ke arah konsep yang lebih luas dan kemampuan matematika menimbulkan pertanyaan
serius tentang kesesuaian matematika tercermin dalam sebagian besar tes
sebelumnya karena matematika yang umumnya jauh berbeda dari matematika yang
benar-benar digunakan dalam pemecahan masalah dunia nyata.
2.
Standar
Pembelajaran
Standar kerangka penilaian untuk pekerjaan yang
ditanamkan dalam kurikulum, konsep yang menjadi penilaian harus menjadi bagian
integral dari proses pembelajaran dan bukan menjadi gangguan.
3.
Standar
Ekuitas dan Kesempatan
Penilaian harus memberikan setiap siswa
kesempatan yang optimal untuk menunjukkan kekuatan matematika.
4.
Standar
Keterbukaan
Penilaian harus dilakukan secara terbuka. Artinya
siswa perlu mengetahui apa yang diharapkan oleh guru pada siswa.
5.
Standar Koherensi
Standar koherensi menekankan pentingnya
memastikan bahwa setiap penilaian sesuai untuk tujuan yang digunakan. Seperti
disebutkan sebelumnya, data penilaian dapat digunakan untuk pemantauan kemajuan
siswa, membuat keputusan instruksional, mengevaluasi prestasi, atau evaluasi
program. Koherensi dalam penilaian kelas dapat dicapai cukup sederhana jika
proses belajar mengajar menjadi terpadu dan penilaian merupakan bagian integral
dari itu.
Fungsi
Penilaian Kelas, yaitu:
1.
Menggambarkan sejauh mana seorang
peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
2. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik
dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang
langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian
maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).
3. Menemukan kesulitan belajar dan
kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat
diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti
remedial atau pengayaan.
4. Menemukan kelemahan dan kekurangan
proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran
berikutnya.
5. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.
5. Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.
Adapun langkah-langkah penilaian kelas yaitu :
1. Menyiapkan rancangan penilaian yang terpadu
dalam pembelajaran
Pada dasarnya,
penilaian dirancang dan dilaksanakan terpadu dengan kegiatan pembelajaran.
Langkah awal dalam penilaian kelas adalah mengidentifikasi indikator pencapaian
hasil belajar dari mata pelajaran yang telah dikembangkan dalam silabus.
2. Melaksanakan penilaian kelas dan memanfaatkan hasilnya
Penilaian kelas
dilakukan terpadu dengan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, penilaian
dilakukan sebelum pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan setelah selesai
pembelajaran.
Berdasarkan
pemaparan informasi diatas, penulis menemukan permasalahan yaitu pada salah satu
dari ciri penilaian kelas. Dimana pada salah ciri penilaian kelas disebutkan “Belajar Tuntas (mastery learning)”
yaitu Peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum
mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik. Pada
kenyataannya sangat sulit menerapkan belajar tuntas tersebut dalam dunia
pendidikan. Bagaimana tanggapan pembaca berkaitan dengan pernyatan tesebut? lalu jika salah satu ciri penilaian kelas tersebut tidak terpenuhi apakah masih bisa dikatakan sebagai penilaian kelas?
Referensi
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131570315/pendidikan/RANCANGAN+HASIL+BELAJAR.pdf
http://niceanggraini.blogspot.com/2017/04/kerangka-kerja-penilaian-kelas-dalam.html
https://muhfathurrohman.wordpress.com/2013/07/29/konsep-dasar-penilaian-kelas/
http://herlien2009.blogspot.com/p/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://suryaningsih2020.blogspot.com/2013/01/manfaat-fungsi-dan-prinsip-penilaian.html
Artikel yang menarik dan menambah wawasan. Adapun tanggapan saya terhadap penerapan belajar tuntas adalah sangat setuju. Mengapa demikian ? Karena pada umumnya pengetahuan itu dikategorikan ke dalam 3 kategori, yakni deklaratif, prosedural dan kondisional. Nah belajar tuntas ini sangat mendukung pada pengetahuan prosedural, dimana pengetahuan prosedural adalah "mengetahui bagaimana" untuk melakukan sesuatu atau memecahkan sebuah kasus. Dimana siswa jika hanya bisa menyebutkan aturan cara (misalnya pembagian) tanpa tau bagaimana ia dapat membagi dengan benar itu hanya bersifat deklaratif atau informasi verbal saja. Namun jika sudah tau bagaimana membagi dengan benar dan menemukan hasil dengan benar, maka pengetahuan prosedural mereka sudah terpenuhi dan bisa lanjut pada materi selanjutnya. lalu bagaimana solusinya dengan siswa yang belum berhasil pada belajar tuntas? Guru bisa melakukan program pengayaan atau yang sering disebut juga dengan program remedial. Dimana program remedial adalah suatu bantuan yang diberikan oleh guru untu mengatasi kesulitas belajar. nah kegiatan remedial ini bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensiyang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. :)
BalasHapusPada tulisan ini ada 5 ciri dari penilain kelas kalua hanya salah satu yang tidak di penuhi hal itu tetap bisa di katakan penilain kelas kecuali syarat dari penilain yg tidak terpenuhi maka hal itu sangat berpengaruh dari pada penilain kelas
BalasHapusModel belajar tuntas pada mulanya diperkenalkan oleh Bloom dan Carroll (1963). Model ini tidak menerima perbedaan prestasi belajar diantara peserta didik. Metode ini berjalan dengan pandangan psikologis belajar modern yang berpegang kepada prinsip perbedaan individual dan belajar kelompok.
BalasHapus2. Metode ini memungkinkan belajar peserta didik jadi aktif, memberikan kesempatan peserta didik mengembangkan diri sendiri, memecahkan masalah dengan menentukan dan kerja sendiri.
3. Guru dan peserta didik bekerja sama secara partisipatif dan persuasive, baik dalam proses belajar maupun dalam bimbingan peserta didik.