Rabu, 20 Februari 2019

Framework For Classroom Assesment In Mathematics (Kerangka Kerja Untuk Penilaian Kelas Dalam Matematika)


           Assalamualaikum,Wr.Wb
Hallo teman-teman semuanya,selamat datang kembali di blog saya :).        
                         
       Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai “Framework  For Classroom Assesment In Mathematics (Kerangka Kerja Untuk Penilaian Kelas Dalam Matematika)”
Sebelum kita membahas lebih lanjut materi pada kesempatan kali ini, ada baiknya kita memang benar-benar memahami terlebih dahulu apa itu penilaian sehingga nantinya kita bisa menjelaskan lebih lanjut apa itu penilaian kelas terutama dalam matematika.

Pengertian Penilaian Kelas
Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskrpsi verbal, analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan.
Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari siswa, atau dapat juga diartikan sebagai Proses pengumpulan & penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa.
jadi, dapat disimpulkan bahwa penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran tertentu. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Keputusan tersebut berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi. 
Salah satu prinsip penilaian kelas yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan siswa. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar siswa yang diajarnya. Selain itu siswa yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya. 

Prinsip-prinsip Penilaian Kelas, yaitu:
1.    Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, misalnya kompetensi ” mempraktikkan gerak dasar jalan.”, maka penilaian valid apabila mengunakan penilaian unjuk kerja. Jika menggunakan tes tertulis maka penilaian tidak valid.
2.    Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi hasil penilaian. Misal, guru menilai dengan unjuk kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan unjuk kerja  dan penskorannya harus jelas.
3.    Menyeluruh
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar. Penilaian harus menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil  kompetensi peserta didik.
4.    Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
5.    Obyektif
Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam  pemberian  skor.
6.    Mendidik

Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal.


Ciri Penilaian Kelas, yaitu:

1.    Belajar Tuntas (mastery learning)
Peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik.
“Jika peserta didik dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuannya untuk beberapa mata                pelajaran dan diajarkan sesuai dengan karakteristik mereka, maka sebagian besar dari mereka akan mencapai ketuntasan”.
(John B. Carrol, A Model of School Learning)
2.    Otentik
Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu, Mencerminkan masalah dunia nyata bukan dunia sekolah , Menggunakan berbagai cara dan kriteria, Holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap,)
3.    Berkesinambungan
Memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil TERUS MENERUS dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas.
4.    Berdasarkan acuan kriteria/ patokan
Prestasi kemampuan peserta didik TIDAK DIBANDINGKAN dengan peserta kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan
5.    Menggunakan berbagai cara dan alat penilaian
Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi. Menggunakan penilaian yang bervariasi: Tertulis, Lisan, Produk, Portofolio, Unjuk Kerja, Proyek, Pengamatan, dan Penilaian Diri.
Adapun teknik/cara penilaian melalui: Unjuk Kerja (Performance), Penugasan, (Proyek/Project), Hasil kerja (Produk/Product), Tertulis, Portofolio (Portfolio), Sikap Diri (Self Assessment)

Tujuan Penilaian Kelas
Tujuan dari penilaian kelas adalah untuk menghasilkan informasi yang memberikan kontribusi untuk pengajaran dan proses dan membantu dalam pengambilan keputusan.
Tujuan pendidikan matematika adalah untuk membantu siswa menjadi terpelajar secara matematis. Ini berarti bahwa individu dapat menangani matematika terlibat dalam masalah dunia nyata (misalnya: alam, masyarakat, budaya-termasuk matematika) yang diperlukan individu untuk saat ini dan kehidupan masa depan (sebagai warga negara yang cerdas) dan kehidupan kerja (studi di masa depan atau bekerja) dan bahwa individu memahami dan menghargai matematika sebagai suatu disiplin ilmu.
Jadi, tujuan dari kerangka kerja untuk penilaian kelas dalam matematika adalah untuk membawa tujuan penilaian kelas bersama-sama dengan tujuan pendidikan matematika dengan cara halus dan koheren, dengan hasil yang optimal untuk proses belajar mengajar, dan dengan saran konkret tentang bagaimana melaksanakan penilaian kelas di situasi kelas.

Standar Penilaian Kelas
Ada beberapa standar penilaian kelas dalam matematika yang diterbitkan oleh Dewan Nasional Guru Matematika (NCTM). Beberapa standar tersebut antara lain :
1.    Standar Matematika
         Pada standar ini, penilaian matematika harus berfokus pada pentingnya matematika. kecenderungan matematika ke arah konsep yang lebih luas dan kemampuan matematika menimbulkan pertanyaan serius tentang kesesuaian matematika tercermin dalam sebagian besar tes sebelumnya karena matematika yang umumnya jauh berbeda dari matematika yang benar-benar digunakan dalam pemecahan masalah dunia nyata.

2.        Standar Pembelajaran
Standar kerangka penilaian untuk pekerjaan yang ditanamkan dalam kurikulum, konsep yang menjadi penilaian harus menjadi bagian integral dari proses pembelajaran dan bukan menjadi gangguan.
3.        Standar Ekuitas dan Kesempatan
Penilaian harus memberikan setiap siswa kesempatan yang optimal untuk menunjukkan kekuatan matematika.

4.        Standar Keterbukaan
             Penilaian harus dilakukan secara terbuka. Artinya siswa perlu mengetahui apa  yang diharapkan oleh guru pada siswa.

5.        Standar  Koherensi
             Standar koherensi menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap penilaian sesuai untuk tujuan yang digunakan. Seperti disebutkan sebelumnya, data penilaian dapat digunakan untuk pemantauan kemajuan siswa, membuat keputusan instruksional, mengevaluasi prestasi, atau evaluasi program. Koherensi dalam penilaian kelas dapat dicapai cukup sederhana jika proses belajar mengajar menjadi terpadu dan penilaian merupakan bagian integral dari itu. 

Fungsi Penilaian Kelas, yaitu:
1.        Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
2.  Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).
3.    Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
4.      Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
5.     Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

Adapun langkah-langkah penilaian kelas yaitu :
1.      Menyiapkan rancangan penilaian yang terpadu dalam pembelajaran
 Pada dasarnya, penilaian dirancang dan dilaksanakan terpadu dengan kegiatan pembelajaran. Langkah awal dalam penilaian kelas adalah mengidentifikasi indikator pencapaian hasil belajar dari mata pelajaran yang telah dikembangkan dalam silabus.
2.     Melaksanakan penilaian kelas dan memanfaatkan hasilnya

 Penilaian kelas dilakukan terpadu dengan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, penilaian dilakukan sebelum pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan setelah selesai pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan informasi diatas, penulis menemukan permasalahan yaitu pada salah satu dari ciri penilaian kelas. Dimana pada salah ciri penilaian kelas disebutkan “Belajar Tuntas (mastery learning)” yaitu Peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik. Pada kenyataannya sangat sulit menerapkan belajar tuntas tersebut dalam dunia pendidikan. Bagaimana tanggapan pembaca berkaitan dengan pernyatan tesebut? lalu jika salah satu ciri penilaian kelas tersebut tidak terpenuhi apakah masih bisa dikatakan sebagai penilaian kelas?

Referensi
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131570315/pendidikan/RANCANGAN+HASIL+BELAJAR.pdf
http://niceanggraini.blogspot.com/2017/04/kerangka-kerja-penilaian-kelas-dalam.html
https://muhfathurrohman.wordpress.com/2013/07/29/konsep-dasar-penilaian-kelas/
http://herlien2009.blogspot.com/p/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://suryaningsih2020.blogspot.com/2013/01/manfaat-fungsi-dan-prinsip-penilaian.html



3 komentar:

  1. Artikel yang menarik dan menambah wawasan. Adapun tanggapan saya terhadap penerapan belajar tuntas adalah sangat setuju. Mengapa demikian ? Karena pada umumnya pengetahuan itu dikategorikan ke dalam 3 kategori, yakni deklaratif, prosedural dan kondisional. Nah belajar tuntas ini sangat mendukung pada pengetahuan prosedural, dimana pengetahuan prosedural adalah "mengetahui bagaimana" untuk melakukan sesuatu atau memecahkan sebuah kasus. Dimana siswa jika hanya bisa menyebutkan aturan cara (misalnya pembagian) tanpa tau bagaimana ia dapat membagi dengan benar itu hanya bersifat deklaratif atau informasi verbal saja. Namun jika sudah tau bagaimana membagi dengan benar dan menemukan hasil dengan benar, maka pengetahuan prosedural mereka sudah terpenuhi dan bisa lanjut pada materi selanjutnya. lalu bagaimana solusinya dengan siswa yang belum berhasil pada belajar tuntas? Guru bisa melakukan program pengayaan atau yang sering disebut juga dengan program remedial. Dimana program remedial adalah suatu bantuan yang diberikan oleh guru untu mengatasi kesulitas belajar. nah kegiatan remedial ini bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensiyang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. :)

    BalasHapus
  2. Pada tulisan ini ada 5 ciri dari penilain kelas kalua hanya salah satu yang tidak di penuhi hal itu tetap bisa di katakan penilain kelas kecuali syarat dari penilain yg tidak terpenuhi maka hal itu sangat berpengaruh dari pada penilain kelas

    BalasHapus
  3. Model belajar tuntas pada mulanya diperkenalkan oleh Bloom dan Carroll (1963). Model ini tidak menerima perbedaan prestasi belajar diantara peserta didik. Metode ini berjalan dengan pandangan psikologis belajar modern yang berpegang kepada prinsip perbedaan individual dan belajar kelompok.
    2.      Metode ini memungkinkan belajar peserta didik jadi aktif, memberikan kesempatan peserta didik mengembangkan diri sendiri, memecahkan masalah dengan menentukan dan kerja sendiri.
    3.      Guru dan peserta didik bekerja sama secara partisipatif dan persuasive, baik dalam proses belajar maupun dalam bimbingan peserta didik.

    BalasHapus