Senin, 25 Februari 2019

“Analysis Of Psychomotor Domain As A Relevant Factor In The Understanding Of Mathematical Concepts” (Analisis Domain Psikomotor Sebagai Faktor Relevan Dalam Memahami Konsep Matematika)”.


Assalamualaikum,Wr.Wb
Hallo teman-teman semuanya,selamat datang kembali di blog saya :).               
        Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai “Analysis Of Psychomotor Domain As A Relevant Factor In The Understanding Of Mathematical Concepts” (Analisis Domain Psikomotor Sebagai Faktor Relevan Dalam Memahami Konsep Matematika)”.
        
        Berdasarkan jurnal oleh Dr. Rev. A. C. Egereonu, The Nigerian Academic Forum Volume 19 No. 1 November, 2010. Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih berfokus pada penilaian Psikomotor yang relevan dengan pemahaman konsep matematika.

Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian harus mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).

Hasil belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara eksplisit. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu, namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif, dan keduanya selalu mengandung ranah afektif.
Matematika dalam pengajaran dan pembelajaran bahkan evaluasi tidak dapat bertahan tanpa psikomotorik. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa semua tingkatan pemerintah dan lembaga harus dilibatkan dalam kebijakan dan praktik untuk menerapkan matematika dengan elemen psikomotorik.

Definisi psikomotorik
Domain psikomotor terkait dengan aktivitas otot dengan gerakan tubuh, anggota badan, atau bagian tubuh lainnya (misalnya jari) yang diperlukan untuk tindakan tertentu.
Mkpa (1984) menjelaskan bahwa domain psikomotor "peduli tentang hasil dalam bidang keterampilan dan tindakan manipulatif yang memerlukan koordinasi neuromuskuler". (hal.90).
Gay (1980) percaya bahwa domain psikomotorik memerlukan kemampuan fisik, yang melibatkan keterampilan otot atau motorik, manipulasi objek atau koordinasi neuromuskuler.
Berkaitan dengan psikomotor, Singer (1972) menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.
Jadi berdasarkan pendapat-pendapat para ahli diatas dapat dipahami bahwa domain psikomotor digunakan untuk melihat hasil belajar  siswa yang pencapaiannya dapat dilihat melalui keterampilan dalam manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik dan dalam mengajar matematika, itu harus “berlaku” Psikomotor kemudian menjadi alat penting dan krusial untuk memahami matematika.
Adapun Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. 

                   Adapun Aspek Psikomotorik (berdasarkan Harrow) meliputi:
No
Kategori Psikomotor
Kata Kerja Operasional
1
Meniru (immitation)
Mengingat, merasakan, menonton, mendengarkan, mencontoh, mengaktifkan, menyesuaikan, menggabungkan, melamar, mengatur, mengumpulkan, menimbang, memperkecil, membangun, mengubah, dll.
2
Menggunakan (manipulation)
Melakukan, mengikuti, mengulang, mencoba, berlatih, mengoreksi, merancang, memilah, melatih, membuat, memperbaiki, mengidentifikasi, dll.
3
Ketepatan (precision)
Mendemonstrasikan, mempraktikan, melaksanakan, mengalihkan, menggantikan, memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur, dll.
4
Merangkai (articulation)
Menyelesaikan dengan percaya diri, memperlihatkan dengan luwes, menggunakan, memadankan, menjeniskan, membentuk, mengalihkan, dll.
5
Naturalisasi (naturalisation)
Mahir, memperlihatkan dengan terampil. Memperlihatkan keterampilan dengan luar biasa,



      Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor
           Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.
           Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
             Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.

Contoh soal :

Hitung dan lukiskan sebuah segitiga sama kaki dan segitiga sama sisi dengan menggunakan jangka dan penggaris secara baik dan benar !
Maka aspek-aspek penilaian dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotornya seperti terdapat pada tabel di bawah ini.
Aspek Penilaian Kognitif
Aspek Penilaian
Psikomotor
Aspek Penilaian
Afektif
Kemampuan siswa dalam menghitung luas segi tiga sama kaki dan sama sisi
1. Cara memegang jangka dan penggaris
2. Penggunaan penggaris dalam fungsinya
3. Penggunaan jangka dalam fungsinya
4. Kebenaran gambar/lukisan
5. Kecermatan gambar/lukisan
6. Kerapian gambar/lukisan
1. Ketertarikan siswa terhadap materi
2. Antusiasme dalam mengerjakan soal
3. Ketelitan siswa dalam mengerjakan soal
4. Kecermatan dalam menggunakan alat

       Dari contoh yang dipaparkan diatas, dapat dipahami bahwa aspek psikomotor yang dilakukan oleh siswa dapat dilihat dari keterampilan siswa menggunakan jangka sesuai fungsinya dan gambar atau lukisan yang diberikan. 

Review Kebutuhan untuk Menilai Kemampuan Psikomotor dalam Matematika
Berikut ini adalah beberapa kebutuhan untuk menilai psikomotor dalam matematika: 
1.      Untuk validitas konkuren serentak / tinggi
2.      Dasar untuk tugas baru
3.      Untuk menghindari fiksasi pada tahap selanjutnya - satu tugas mendahului / tergantung pada yang sebelumnya.
4.      Dominasi kegiatan psikomotorik - bahkan sejak zaman kuno.
5.      Pengabaian psikomotor dalam preferensi untuk penilaian kognitif.
6.      Hukum kedekatan - Untuk menghapus abstraksi
7.      Untuk menerapkan konsep konsep Plagets / Bruno ke setiap gerakan dan ikon.
8.      Hukum Antisipasi Pematangan morfologis: kecenderungan untuk mengisap dari rahim oleh anak dan rahim di luar anak untuk mengisap payudara.
9.      Untuk menyeimbangkan pengembangan kepribadian untuk tantangan di masa depan.
10.  Untuk pembelotan dini dari endowmen positif / negatif dalam kegiatan olahraga dan opsi serupa untuk dorongan / peningkatan.

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis dapat memahami bahwa analisis psikomotor merupakan salah satu penilaian untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menerapkan teori matematika sebagai faktor yang relevan dalam memahami konsep matematika.
Berdasarkan diskusi penulis dengan teman-teman yang pernah menjadi guru ppl da nada juga yang sudah menjadi guru disalah satu sekolah mengatakan bahwa tidak semua konsep matematika dapat langsung diamati kepemahaman siswa dalam mempraktekkannya contoh materi integral akan tetapi banyak materi matematika yang bisa langsung dilihat kepemahaman siswa dalam mempraktekannya contoh materi phytagoras untuk menentukan jarak terdekat dari suatu titik ke titik lainnya
Berdasarkan pemaparan informasi diatas, penulis menemukan beberapa permasalahan yaitu:
1.  Apa yang menjadi tolak ukur dalam penilaian psikomotorik dalam hal pemahaman konsep matematika?
2. Berikan contoh lain materi matematika yang bisa dinilai secara langsung ranah psikomotornya
Referensi:


3 komentar:

  1. Tulisannya sudah cukup bagus mengenai pertanyaan penulis dan beradasarkan buku2 yang pernah saya baca bahwa yang menjadi tolak ukur dalam Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.

    BalasHapus
  2. Mengenai pertanyaan kedua yaitu Contohnya dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.sikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.

    BalasHapus
  3. Yang menjadi tolak ukur dalam penilaian psikomotor dalam hal pemahaman konsep, dapat diambil dari kriteria Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.

    BalasHapus