Assalamualaikum,Wr.Wb
Hallo
teman-teman semuanya,selamat datang kembali di blog saya :).
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai
“Analysis Of Psychomotor Domain As A Relevant Factor In The Understanding Of Mathematical
Concepts” (Analisis Domain Psikomotor Sebagai Faktor Relevan Dalam Memahami
Konsep Matematika)”.
Berdasarkan
jurnal oleh Dr. Rev. A. C. Egereonu, The Nigerian Academic
Forum Volume 19 No. 1 November, 2010. Pada
kesempatan kali ini, penulis akan lebih berfokus pada penilaian Psikomotor yang
relevan dengan pemahaman konsep matematika.
Pasal
25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan,
dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian harus
mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif
(sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).
Hasil
belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif,
afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain
secara eksplisit. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu,
namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik
lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang
menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif, dan
keduanya selalu mengandung ranah afektif.
Matematika
dalam pengajaran dan pembelajaran bahkan evaluasi tidak dapat bertahan tanpa
psikomotorik. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa semua tingkatan
pemerintah dan lembaga harus dilibatkan dalam kebijakan dan praktik untuk
menerapkan matematika dengan elemen psikomotorik.
Definisi psikomotorik
Domain psikomotor
terkait dengan aktivitas otot dengan gerakan tubuh, anggota badan, atau bagian
tubuh lainnya (misalnya jari) yang diperlukan untuk tindakan tertentu.
Mkpa (1984) menjelaskan
bahwa domain psikomotor "peduli tentang hasil dalam bidang keterampilan
dan tindakan manipulatif yang memerlukan koordinasi neuromuskuler".
(hal.90).
Gay (1980) percaya
bahwa domain psikomotorik memerlukan kemampuan fisik, yang melibatkan keterampilan
otot atau motorik, manipulasi objek atau koordinasi neuromuskuler.
Berkaitan dengan
psikomotor, Singer (1972) menambahkan bahwa mata
pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih
beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan
keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian
seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.
Jadi berdasarkan pendapat-pendapat para ahli diatas dapat dipahami bahwa domain psikomotor digunakan untuk melihat hasil belajar siswa yang pencapaiannya dapat dilihat melalui keterampilan dalam manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan
fisik dan dalam mengajar matematika, itu harus “berlaku” Psikomotor kemudian menjadi
alat penting dan krusial untuk memahami matematika.
Adapun Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa
hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi,
manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi.
Adapun Aspek
Psikomotorik (berdasarkan Harrow) meliputi:
No
|
Kategori Psikomotor
|
Kata Kerja Operasional
|
1
|
Meniru (immitation)
|
Mengingat, merasakan, menonton, mendengarkan, mencontoh,
mengaktifkan, menyesuaikan, menggabungkan, melamar, mengatur, mengumpulkan,
menimbang, memperkecil, membangun, mengubah, dll.
|
2
|
Menggunakan
(manipulation)
|
Melakukan, mengikuti, mengulang, mencoba, berlatih,
mengoreksi, merancang, memilah, melatih, membuat, memperbaiki,
mengidentifikasi, dll.
|
3
|
Ketepatan
(precision)
|
Mendemonstrasikan, mempraktikan, melaksanakan, mengalihkan, menggantikan,
memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur,
dll.
|
4
|
Merangkai
(articulation)
|
Menyelesaikan dengan percaya diri, memperlihatkan dengan luwes,
menggunakan, memadankan, menjeniskan, membentuk, mengalihkan, dll.
|
5
|
Naturalisasi
(naturalisation)
|
Mahir, memperlihatkan dengan terampil. Memperlihatkan keterampilan dengan luar
biasa,
|
Contoh Pengukuran
Ranah Penilaian Psikomotor
Ada
beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan
(1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1)
pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses
pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu
dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan
kelak dalam lingkungan kerjanya.
Sementara
itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor
mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan
menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan
mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian
bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di
atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat
dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan
praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
Contoh soal
:
Hitung
dan lukiskan sebuah segitiga sama kaki dan segitiga sama sisi dengan
menggunakan jangka dan penggaris secara baik dan benar !
Maka
aspek-aspek penilaian dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotornya seperti
terdapat pada tabel di bawah ini.
Aspek Penilaian Kognitif
|
Aspek Penilaian
Psikomotor
|
Aspek Penilaian
Afektif
|
Kemampuan siswa dalam menghitung luas segi tiga sama kaki
dan sama sisi
|
1. Cara memegang jangka dan penggaris
2. Penggunaan penggaris dalam fungsinya
3. Penggunaan jangka dalam fungsinya
4. Kebenaran gambar/lukisan
5. Kecermatan gambar/lukisan
6. Kerapian gambar/lukisan
|
1. Ketertarikan siswa terhadap materi
2. Antusiasme dalam mengerjakan soal
3. Ketelitan siswa dalam mengerjakan soal
4. Kecermatan dalam menggunakan alat
|
Review Kebutuhan untuk Menilai
Kemampuan Psikomotor dalam Matematika
Berikut
ini adalah beberapa kebutuhan untuk menilai psikomotor dalam matematika:
1. Untuk
validitas konkuren serentak / tinggi
2. Dasar
untuk tugas baru
3. Untuk
menghindari fiksasi pada tahap selanjutnya - satu tugas mendahului / tergantung
pada yang sebelumnya.
4. Dominasi
kegiatan psikomotorik - bahkan sejak zaman kuno.
5. Pengabaian
psikomotor dalam preferensi untuk penilaian kognitif.
6. Hukum
kedekatan - Untuk menghapus abstraksi
7. Untuk
menerapkan konsep konsep Plagets / Bruno ke setiap gerakan dan ikon.
8. Hukum
Antisipasi Pematangan morfologis: kecenderungan untuk mengisap dari rahim oleh
anak dan rahim di luar anak untuk mengisap payudara.
9. Untuk
menyeimbangkan pengembangan kepribadian untuk tantangan di masa depan.
10. Untuk
pembelotan dini dari endowmen positif / negatif dalam kegiatan olahraga dan
opsi serupa untuk dorongan / peningkatan.
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis dapat memahami
bahwa analisis psikomotor merupakan salah satu penilaian untuk mengetahui
keterampilan siswa dalam menerapkan teori matematika sebagai faktor yang
relevan dalam memahami konsep matematika.
Berdasarkan diskusi penulis dengan teman-teman yang
pernah menjadi guru ppl da nada juga yang sudah menjadi guru disalah satu
sekolah mengatakan bahwa tidak semua konsep matematika dapat langsung diamati
kepemahaman siswa dalam mempraktekkannya contoh materi integral akan tetapi
banyak materi matematika yang bisa langsung dilihat kepemahaman siswa dalam
mempraktekannya contoh materi phytagoras untuk menentukan jarak terdekat dari
suatu titik ke titik lainnya
Berdasarkan pemaparan informasi diatas, penulis menemukan beberapa permasalahan yaitu:
1. Apa yang menjadi tolak ukur dalam penilaian
psikomotorik dalam hal pemahaman konsep matematika?
2. Berikan contoh lain materi matematika yang bisa dinilai secara langsung ranah psikomotornya
Referensi:
Tulisannya sudah cukup bagus mengenai pertanyaan penulis dan beradasarkan buku2 yang pernah saya baca bahwa yang menjadi tolak ukur dalam Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.
BalasHapusMengenai pertanyaan kedua yaitu Contohnya dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.sikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
BalasHapusYang menjadi tolak ukur dalam penilaian psikomotor dalam hal pemahaman konsep, dapat diambil dari kriteria Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
BalasHapus