Rabu, 10 Oktober 2018

Internet Of Things dalam Pembelajaran Matematika


Hai teman-teman semuanya, selamat datang kembali di blog saya :)
Saat ini saya akan membagikan salah satu jurnal yang membahas tentang  Internet of Things (IOT), dimana jurnal yang saya gunakan yaitu International Journal of Innovative and Emerging Research in Engineering , Volume 2, Edisi 3, 2015 yang berjudul :

Review On Wolfram Alpha: Pencarian dan Mesin Pengetahuan
Oleh Miss Dhanashri.P.Bhuse
Pada jurnal yang kami bahas, jurnal tersebut fokus kepada aplikasi iot dimana aplikasinya berupa Wolfram Alpha. Nah sebelum membahas aplikasi tersebut ada baiknya terlebih dahulu kita harus memahami apa sih sebenarnya IOT?

Internet of things atau sering disebut IoT adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. misalnya CCTV yang terpasang di sepanjang jalan dihubungkan dengan koneksi internet dan disatukan di rung kontrol yang jaraknya mungkin puluhan kilometer. atau sebuah rumah cerdas yang dapat dimanage lewat smartphone dengan bantuan koneksi internet. Jadi dengan adanya iot manusia tidak perlu mengontrol benda/perangkat IoT secara langsung. Melainkan manusia bisa mengontrol benda tersebut dari jarak jauh denga smartphone masing-masing.

Nah, setelah kita memahami lebih jelas makna Internet of things (iot) maka selanjutnya kita akan membahas salah satu contoh aplikasi dari iot tersebut. Dimana pada jurnal yang telah kelompok kami temukan yaitu membahas mengenai “ Wolfram Alpha”

Wolfram Alpha adalah mesin jawaban yang dikembangkan oleh Wolfram Research. Wolfram Alpha merupakan layanan yang tersedia yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara faktual dengan menghitung jawaban secara terstruktur secara langsung dengan menghitung jawaban dari data yang disiapkan. Wolfram Alpha dipublikasikan pada Maret 2009 oleh Stephen Wolfram. Dimana Tujuan jangka panjang Wolfram Alpha adalah untuk membuat semua pengetahuan sistematis dan dapat dikomputasi dengan mudah untuk semua orang. Jadi Wolfram Alpha adalah mesin pencari pengethuan yang dijadikan sebagai alat yang fantastis untuk siapa saja yang perlu melakukan perhitungan serius. Mesin pencari ini memberikan jawaban dan informasi tentang data, yang dicari. adapun untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tanyaan video berikut : 





Pada jurnal diatas dijelaskan bahwa Wolfram Alpha adalah alat yang fantastis untuk siapa saja yang perlu melakukan perhitungan serius. selain dilakukan untuk perhitungan serius apakah wolfram alpha bisa digunakan untuk mncari informasi atau pengetahuan2 lainnya secara lebih rinci dan jelas?

lalu jelaskan apakah ada efek negatif pada penggunaan Wolfram Alpha ?















Selasa, 25 September 2018

Artificial Intelligence (AI)


Hai teman-teman semuanya, selamat datang kembali di blog saya :)
Saat ini saya akan membagikan salah satu jurnal yang membahas tentang  Artificial intelligence (AI), dimana jurnal yang saya gunakan yaitu Jurnal Internasional Pendidikan dan Pengembangan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IJEDICT), 2008, Vol. 4, Edisi 4, hlm 50-63 yang berjudul :

Pemanfaatan Sistem Bimbingan Cerdas dalam pembelajaran matematika
Tsai Chen, Aida MdYunus, Wan Zah Wan Ali, AbRahim Bakar
Universiti Putra Malaysia, Malaysia
Sebelum kita membahas salah satu contoh kecerdasan buatan di era milenial saat ini, Kita harus memahami terlebih dahulu apa sih yang dimaksud Artificial intelligence (AI) atau yang lebih sering kita dengar dengan  sebutan kecerdasan buatan?
Menurut Patterson (1990) Artificial Intelligence (AI) ialah sebagai cabang ilmu komputer yang berkaitan dengan penelitian dan penciptaan sistem komputer yang menunjukkan beberapa bentuk kecerdasan. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa AI adalah sebuah sistem yang dapat mempelajari konsep dan tugas baru.
Sementara menurut Ester AI mampu mempersiapkan lingkungan pembelajaran interaktif yang lebih manusiawi untuk siswa.
Adapun menurut Heffernan (2001) menegaskan bahwa AI telah dikenal dan dihargai secara luas di bidang komputasi pendidikan. Dia juga menekankan bahwa tujuan keseluruhan pengembangan AI adalah untuk memungkinkan komputer menjadi efektif dan bertindak sebagai agen berpengetahuan dalam proses belajar mengajar.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat dipahami, bahwasanya Artificial intelligence (AI) atau yang lebih sering kita dengar dengan  sebutan kecerdasan buatan merupakan sebuah teknologi komputer atau mesin yang memiliki kecerdasan layaknya manusia.
Nah, setelah kita memahami lebih jelas makna Artificial intelligence (AI) atau yang lebih sering kita dengar dengan  sebutan kecerdasan buatan. Maka selanjutnya kita akan membahass contoh kecerdasan buatan. Adapun salah satu contoh kecerdasan buatan yaitu Intelligent Tutoring Systems (ITS) yang lebih sering kita dengar dengan sebutan sistem bimbingan cerdas. Dimana ITS mampu memberikan umpan balik yang tepat ketika kesalahan dibuat. ITS adalah bagian dari generasi baru instruksional program komputer. Manfaat dari menggunakan ITS telah terbukti dalam aspek-aspek seperti menghasilkan umpan balik yang berguna bagi siswa dalam belajar matematika, menawarkan lingkungan belajar yang memotivasi peserta didik, memberikan umpan balik instan yang berguna untuk peserta didik, dan memberikan efek positif pada pencapaian siswa.
Menurut McArthur, Lewis, dan Bishay (1994), ITS berusaha untuk menangkap metode pengajaran dan pembelajaran yang dicontohkan oleh interaksi bimbingan pribadi satu-ke-satu. Pengajaran satu-ke-satu memungkinkan belajar menjadi sangat individual dan konsisten menghasilkan hasil yang lebih baik daripada metode pengajaran lain.
ITS tidak hanya memberikan umpan balik seperti jawaban yang benar atau salah untuk solusi matematika siswa tetapi juga memberikan rincian kesalahpahaman yang dihadapi siswa. Pendidik seperti Duchastel (1988) percaya bahwa ITS berbasis dialog menyediakan sebuah dialog interaktif dengan siswa yang mirip dengan peran tutor manusia dalam membantu siswa belajar.

Jadi, ITS yang dibahas dalam jurnal ini ialah Ms Lindquist yang  dikembangkan oleh Heffernan (2001), yang memberikan pembelajaran episode berdasarkan interaksi berbasis dialog dengan siswa. Ia mampu mendiagnosis tindakan siswa untuk menyimpulkan keadaan kognitif pembelajar, seperti tingkat pengetahuannya atau kecakapan.

Itulah pembahasan tentang Artificial intelligence (AI) serta contohnya yang bersumber dari jurnal yang telah disebutkan diatas, Terimkasih sudah berkunjung, silahkan tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar :)











Selasa, 18 September 2018

Pembuatan Multimedia yang Sesuai Dengan Prinsip-Prinsip Desain Multimedia


Hai teman-teman semuanya. Pada pertemuan sebelumnya saya telah memaparkan hasil observasi yang telah saya lakukan di salah satu sekolah yang berada di kota Jambi. Dimana berdasarkan observasi yang telah saya lakukan ditemukan beberapa permasalahan. Nah adapun pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan multimedia pembelajaran yang telah saya buat yaitu berupa “power point” berdasarkan prinsip-prinsip dalam pembuatan multimedia pembelajaran.
Sedikit mengulang permasalahan yang terjadi pada sekolah yang telah di observasi. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut yaitu:
1. Tidak adanya penggunaan multimedia pada saat proses belajar-mengajar
2. Ketidakefektivannya waktu belajar
3. Bahan ajar (sumber buku) yang tidak sesuai antara buku pegangan guru dan buku yang dimiliki  siswa
4. Kondisi kelas; kondisi kelas kurang kondusif karena ada beberapa anak yang telat masuk kelas setelah beberapa menit pembelajaran dimulai sehingga membuat konsentrasi anak yang ada di dalam kelas terganggu.
5. Kenakalan siswa yang menonjol ; siswa berpindah-pindah tempat duduk, posisi duduk yang     kelewat santai sampai tidur-tiduran di atas meja, menguap, tidak memperhatikan guru pada saat   mengajar
           Berdasarkan permasalahan yang terjadi di lapangan, maka dari itu penulis mencoba mendesain multimedia pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip dalam mendesain multimedia pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Adapun multimedia yang telah penulis buat yaitu berupa power point. Power point ini dipilih untuk mengatasi masalah yang terjadi di sekolah tersebut karena proses pembuatannya terkategori mudah dan di dalam powert point tersebut kita bisa mencantumkan suara, gambar, animasi dan lain-lainnya. Dimana power point yang penulis buat sesuai dengan prinsip-prinsip desain multimedia yaitu:

1.   Prinsip multimedia
 Murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja.  (Mayer,2009:93). 
Multimedia yang telah penulis buat yaitu berupa power point, dimana pada power point tersebut penulis telah mengkombinasikan kata-kata dan gambar.

2.    Prinsip keterdekatan
a.          a.  Prinsip keterdekatan ruang
          Siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan            saling berdekatan.

          Pada multimedia yang telah penulis buat, yaitu berupa power point, dimana pada power point              tersebut menyajikan kata-kata dan  gambar-gambar yang terkait saling berdekatan. jadi pada                saat menyajikannya kata-kata di slide tersebut tidak berjauhan. 
b.              b. Prinsip keterdekatan waktu
         Siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait                     disajikan pada waktu yang sama.

         Pada multimedia yang telah penulis buat, yaitu berupa power point, dimana pada power point             tersebut menyajikan kata-kata yang ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait disajikan                pada waktu yang sama. jadi pada saat menampilkan kata-kata ataupun gambar pada slide di                power point tersebut ditampilkan pada waktu yang sama, jadi tidak ada jarak waktu yang                    terlalu lama. 

3.      Prinsip koherensi
Siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan . jadi pada power point yang penulis buat, apa-apa saja yang diluar konteks maka tidak penulis tampilkan. jadi baik materi, kata maupun gambar yang disajikan semuanya yang sesuai dengan konteks.

4.      Prinsip personalisasi
Menggunakan bahasa penyampaian materi yang ringan / tidak terlalu formal.

      Pada power point yang telah penulis buat, dapat dilihat pada tampilan slidenya, kata-kata yang penulis gunakan yaitu kata-kata yang mudah dipahami siswa.

5. Prinsip sinyal
Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata diikuti dengan clue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang di sajikan.

pada power point yang telah penulis buat yaitu dapat dilihat pada slide, penulis membuat kata-kata yang ada di teks dilakukan penekanan yaitu berupa pewarnaan pada kata yang penting berupa warna tulisan "merah".

     Itulah multimedia yang penulis buat dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam  mendesain multimedia Bagi teman-teman yang ingin melihat lebih lenhkapnya dapat di unduh di https://youtu.be/4zrHOQG4UQY.
Terimkasih sudah berkunjung, silahkan tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar 

Selasa, 11 September 2018

Observasi di Salah Satu Sekolah SMAN di Kota Jambi



Hai teman-teman semuanya. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hasil observasi yang telah saya dan teman saya lakukan di salah satu sekolah yang berada di kota jambi pada hari kamis tanggal 6 September 2018. Berdasarkan observasi yang telah kelompok kami lakukan, kami menemukan banyak permasalan yang terjadi sehingga permasalahan tersebut  menjadi kendala dalam proses belajar-mengajar. Adapun permasalahan-permasalahan yang kami temukan yaitu:

1.   Tidak adanya penggunaan multimedia pada saat proses belajar-mengajar
             Pada saat observasi yang peneliti lakukan, guru yang mengajar tidak menggunakan media ataupun multimedia pembelajaran, dikarenakan sekolah tersebut hanya memiliki 1 infokus dan infokus tersebut digunakan secara bergantian.
2.Ketidakefektifannya waktu belajar
           Di sekolah yang kami observasi, khususnya kelas X IPA 5 mata pelajaran matematika diajarkan setiap hari kamis (1 kali pertemuan dalam seminggu). Pada kelas yang peneliti amati, kelas tersebut mendapatkan pembagian waktu yang kurang efektif yaitu  pada siang hari dari pukul 12.30-15.30 (4 jam). Berdasarkan wawancara peneliti pada pihak guru mengapa hal ini bisa terjadi? sumber menerangkan ada kemungkinan pihak penyusun jadwal mengikuti anjuran k13 dimana pertemuan Matematika langsung diajarkan 4 jam.
 Telah kita ketahui anggapan yang telah berkembang sejak lama bahwa “ matematika adalah mata pelajaran yang menjadi momok yang menakutkan dan membutuhkan tingkat pemikiran yang tinggi”  seharusnya alokasi penempatan waktu pada pelajaran matematika diletakan pada waktu pagi disaat kondisi fisik+otak anak sedang fresh jangan ditempatkan pada waktu siang hari, karena siang hari disebut “waktu rawan”. Rawan ngantuk, rawan focus dalam pelajaran dan rawan-rawan lain
3.   Bahan ajar (sumber buku) yang tidak sesuai
 Pada hari kamis tanggal 6 september 2018, materi yang disampaikan guru tentang “pertidaksamaan pecahan”. Namun, materi tersebut tidak ada di LKS yang menjadi pegangan siswa. Berdasarkan wawancara kelompok kami kepada Guru bersangkutan, siswa memang hanya dibekali LKS, tanpa tambahan buku lain. Sementara materi pertidaksamaan pecahan yang tidak ada di LKS tersebut merupakan salah satu point dari silabus yang harus diajarkan guru. Menurut penuturan guru tersebut, buku dari kemendikbud untuk K13-pun tidak sesuai dengan sylabus.  Seharusnya bahan ajar yang dimiliki guru harus sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang menjadi pegangan guru dan siswa berbeda.
4. Kondisi Kelas
  waktu belajar exact yang kegiatannya dilakukan di siang hari membuat kondisi kelas yang tidak kondusif. Karena, sebagian  siswa tidak bisa berkonsentrasi ketika belajar. Penempatan waktu belajar matematika setelah isoma siang juga menyebabkan siswa tidak tertib. Ketika peneliti bertanya “Mengapa tidak dibuat sebuah peraturan kelas?”  guru tersebut menjawab : saya telah membuatnya, akan tetapi karakter siswa yang nakal memang sulit di atasi.
   Guru juga tidak bisa membuat anak disiplin terhadap waktu. Karena pada saat observasi, peneliti menemukan siwa yang terlambat masuk kelas ± 10 menit setalah proses pembelajaran dimulai. Ada pula siswa yang tidak bisa diam di tempat. Siswa tersebut berjalan-jalan dan berpindah tempat duduk sesuka hatinya. Walaupun siswa tersebut terlambat masuk kelas, berjalan-jalan dan berpindah tempat duduk namun guru tersebut tidak memberikan teguran.
   Permasalahan yang terjadi menyebabkan peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru tersebut tidak membuat peraturan yang mengikat siswa agar siswa segan. Ternyata, faktor waktu siang yang tidak efektif dan kenakalan siswa yang tak biasa, diakui sang guru sebagai penghambat untuk bisa mengendalikan ketertiban kelas.

5.   Kenakalan siswa yang menonjol
Pada saat observasi, peneliti menemukan ada satu siswa yang susah diatur, mau melakukan semaunya sendiri (bebal) seperti berpindah tempat duduk, posisi duduk yang kelewat santai sampai tidur-tiduran di atas meja  sehingga membuat si “anak”  mendapatkan perlakuan yang cukup terlihat berbeda dengan siswa lain.
Namun, ada hal menarik yang peneliti lihat dari siswa tersebut. Siswa tersebut beberapa kali terlihat mencoba me-respect pelajaran dari rekaman ke tiga (07:52). Terlihat dari respon-nya yang ikut menjawab pemecahan masalah bersama yang diajukan guru kepada siswa, atau posisi tiduran yang masih tetap berusaha melihat ke arah guru, membuat peneliti yakin siswa ini masih bisa diajari dengan menggunakan pendekatan perbedaan individu. Hanya saja keefektifan waktu dan karakter siswa tadi membuat guru menyerah lebih dulu.
Walupun banyaknya permasalahan yang terjadi serta adanya factor lain dari segi waktu dan siswa, Peneliti tetap merasakan guru meiliki penguasaan kelas yang bagus. Terlihat dari feedback siswa yang sebagian besar bisa mengikuti pelajaran meskipun banyak kekurangan dari bahan ajar, waktu, dan aktivitas yang mengganggu. Sebuah apresiasi yang bagus untuk penjelasan sang guru yang mampu membuat siswanya paham.

Dari semua permasalahan yang peneliti temukan saat observasi, peneliti memiliki beberapa solusi untuk sekolah tersebut dalam pembelajaran matematika. Adapun solusi yang dapat peneliti berikan yaitu sebaiknya pembelajaran menggunakan  multimedia pembelajaran berupa microsoft powerpoint dengan alasan:

1.      Bahan ajar (sumber buku)
Sebaiknya bahan ajar siswa dan guru jangan berbeda. Siswa juga seharusnya dibekali buku paket untuk mempermudah pemahaman siswa dan bisa menghemat alokasi waktu. jangan hanya lks yang dimiliki siswa, Karena di lks penjelasan materi sangat sedikit namun lebih banyak soal-soal. Dengan menggunakan Microsoft power point sesuai dengan landasan filosofis, multimedia disesuaikan dengan isi pesan/ materi sehingga pada saat terjadinya proses belajar-mengajar, pembelajaran akan berjalan lebih efektif dikarenakan materi yang ditampilkan pada Microsoft power point bisa dilihat oleh semua siswa, sehingga bahan ajar yang dimiliki guru sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang menjadi pegangan guru dan siswa berbeda, namun harus diingat sumber yang disajikan harus valid.

2.      Sarana dan prasarana di tingkatkan
       Berdasarkan permasalahan yang terjadi, sebaiknya guru menggunakan multimedia pembelajaran untuk materi  “pertidaksamaan pecahan” dengan menggunakan Microsoft power point karena sesuai dengan landasan teknologis, multimedia pembelajaran sebaiknya memudahkan pembelajar untuk belajar. Dengan digunakannya Microsoft power point  guru tidak perlu menulis materi yang menghabiskan waktu lebih banyak. Karena di sekolah ini hanya memiliki 1 infokus yang digunakan bergantiaan, sebaiknya guru tersebut jauh-jauh hari meminjam atau meminta izin untuk menggunakan infokus pada hari kamis di waktu siang untuk menunjang penggunaan multimedia.
3.    Pengunaan multimedia berupa Microsoft power point baik digunakan di kelas ini, karena sesuai dengan landasan psikologis Kondisi psikologis setiap individu berbeda-beda karena perbedaan tahap perkembangan, latar belakang sosial-budaya dan perbedaan factor-faktor yang dibawa sejak lahir. Untuk mengatasi permaslahan tersebut maka suasana belajar harus disesuaikan dengan psikologis anak yaitu dapat dibantu dengan multimedia berupa Microsoft power point. Karena pembelajaran dengan menggunakan Microsoft power point dapat menarik minat siswa karena tampilan Microsoft power point dapat dibuat semenarik mungkin dengan mengkombinasikan berupa gambar, video, animasi, audio dan lainnya.
4.  Penggunaan multimedia berupa Microsoft power point sesuai dengan landasan empiris, dimana pemilihan multimedia pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian karakteristik peserta didik, dan materi. Penggunaan Microsoft power point sangat cocok karena guru dapat merancang penyajian materi sesuai karakteristik siswa di kelas tersebut.
5.      Alokasi waktu yang lebih efektif
Sebaiknya dilakukan pembaruan ulang jam belajar agar lebih efektif. Karena di sekolah ini, semua pelajaran Matematika diajarkan 1 kali dalam seminggu dengan durasi 4 jam.

Berdasarkan solusi yang telah penulis paparkan , bagaimana menurut pembaca apakah solusi yang telah penulis berikan berupa penggunaan multimedia pembelajaran berupa microsoft power point terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut telah cocok dan bisa membuat perubahan hasil pembelajaran menjadi lebih baik? atau adakah multimedia lain yang bisa pembaca usulkan untuk penulis terhadap permaslahan yang terjadi di sekolah tersebut?