Hai
teman-teman semuanya. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hasil
observasi yang telah saya dan teman saya lakukan di salah satu sekolah yang
berada di kota jambi pada hari kamis tanggal 6 September 2018. Berdasarkan
observasi yang telah kelompok kami lakukan, kami menemukan banyak permasalan
yang terjadi sehingga permasalahan tersebut menjadi kendala dalam proses belajar-mengajar.
Adapun permasalahan-permasalahan yang kami temukan yaitu:
1. Tidak
adanya penggunaan multimedia pada saat proses belajar-mengajar
Pada saat observasi yang peneliti
lakukan, guru yang mengajar tidak menggunakan media ataupun multimedia
pembelajaran, dikarenakan sekolah tersebut hanya memiliki 1 infokus dan infokus
tersebut digunakan secara bergantian.
2.Ketidakefektifannya
waktu belajar
Di
sekolah yang kami observasi, khususnya kelas X IPA 5 mata pelajaran matematika
diajarkan setiap hari kamis (1 kali pertemuan dalam seminggu). Pada kelas yang
peneliti amati, kelas tersebut mendapatkan pembagian waktu yang kurang efektif
yaitu pada siang hari dari pukul
12.30-15.30 (4 jam). Berdasarkan wawancara peneliti pada pihak guru mengapa hal
ini bisa terjadi? sumber menerangkan ada kemungkinan pihak penyusun jadwal
mengikuti anjuran k13 dimana pertemuan Matematika langsung diajarkan 4 jam.
Telah kita ketahui anggapan yang telah
berkembang sejak lama bahwa “ matematika adalah mata pelajaran yang menjadi
momok yang menakutkan dan membutuhkan tingkat pemikiran yang tinggi” seharusnya alokasi penempatan waktu pada
pelajaran matematika diletakan pada waktu pagi disaat kondisi fisik+otak anak
sedang fresh jangan ditempatkan pada waktu siang hari, karena siang hari
disebut “waktu rawan”. Rawan ngantuk, rawan focus dalam pelajaran dan
rawan-rawan lain
3. Bahan
ajar (sumber buku) yang tidak sesuai
Pada
hari kamis tanggal 6 september 2018, materi yang disampaikan guru tentang
“pertidaksamaan pecahan”. Namun, materi tersebut tidak ada di LKS yang menjadi
pegangan siswa. Berdasarkan wawancara kelompok kami kepada Guru bersangkutan,
siswa memang hanya dibekali LKS, tanpa tambahan buku lain. Sementara materi
pertidaksamaan pecahan yang tidak ada di LKS tersebut merupakan salah satu
point dari silabus yang harus diajarkan guru. Menurut penuturan guru tersebut,
buku dari kemendikbud untuk K13-pun tidak sesuai dengan sylabus. Seharusnya bahan ajar yang dimiliki guru harus
sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang menjadi pegangan guru dan siswa
berbeda.
4.
Kondisi Kelas
waktu belajar exact yang kegiatannya dilakukan di siang hari membuat kondisi
kelas yang tidak kondusif. Karena, sebagian siswa tidak bisa berkonsentrasi ketika belajar.
Penempatan waktu belajar matematika setelah isoma siang juga menyebabkan siswa
tidak tertib. Ketika peneliti bertanya “Mengapa tidak dibuat sebuah peraturan
kelas?” guru tersebut menjawab : saya telah
membuatnya, akan tetapi karakter siswa yang nakal memang sulit di atasi.
Guru juga tidak bisa membuat anak disiplin
terhadap waktu. Karena pada saat observasi, peneliti menemukan siwa yang
terlambat masuk kelas ± 10 menit setalah proses pembelajaran dimulai. Ada pula
siswa yang tidak bisa diam di tempat. Siswa tersebut berjalan-jalan dan berpindah
tempat duduk sesuka hatinya. Walaupun siswa tersebut terlambat masuk kelas,
berjalan-jalan dan berpindah tempat duduk namun guru tersebut tidak memberikan
teguran.
Permasalahan yang terjadi menyebabkan peneliti dapat
menyimpulkan bahwa guru tersebut tidak membuat peraturan yang mengikat siswa agar
siswa segan. Ternyata, faktor waktu siang yang tidak efektif dan kenakalan
siswa yang tak biasa, diakui sang guru sebagai penghambat untuk bisa mengendalikan
ketertiban kelas.
5.
Kenakalan siswa yang menonjol
Pada saat observasi, peneliti menemukan
ada satu siswa yang susah diatur, mau melakukan semaunya sendiri (bebal)
seperti berpindah tempat duduk, posisi duduk yang kelewat santai sampai
tidur-tiduran di atas meja sehingga
membuat si “anak” mendapatkan perlakuan
yang cukup terlihat berbeda dengan siswa lain.
Namun, ada hal menarik yang peneliti lihat dari siswa tersebut. Siswa tersebut beberapa kali terlihat mencoba me-respect pelajaran dari rekaman ke tiga (07:52). Terlihat dari respon-nya yang ikut menjawab pemecahan masalah bersama yang diajukan guru kepada siswa, atau posisi tiduran yang masih tetap berusaha melihat ke arah guru, membuat peneliti yakin siswa ini masih bisa diajari dengan menggunakan pendekatan perbedaan individu. Hanya saja keefektifan waktu dan karakter siswa tadi membuat guru menyerah lebih dulu.
Namun, ada hal menarik yang peneliti lihat dari siswa tersebut. Siswa tersebut beberapa kali terlihat mencoba me-respect pelajaran dari rekaman ke tiga (07:52). Terlihat dari respon-nya yang ikut menjawab pemecahan masalah bersama yang diajukan guru kepada siswa, atau posisi tiduran yang masih tetap berusaha melihat ke arah guru, membuat peneliti yakin siswa ini masih bisa diajari dengan menggunakan pendekatan perbedaan individu. Hanya saja keefektifan waktu dan karakter siswa tadi membuat guru menyerah lebih dulu.
Walupun banyaknya permasalahan yang
terjadi serta adanya factor lain dari segi waktu dan siswa, Peneliti tetap
merasakan guru meiliki penguasaan kelas yang bagus. Terlihat dari feedback siswa yang sebagian besar bisa
mengikuti pelajaran meskipun banyak kekurangan dari bahan ajar, waktu, dan
aktivitas yang mengganggu. Sebuah apresiasi yang bagus untuk penjelasan sang
guru yang mampu membuat siswanya paham.
Dari semua permasalahan yang peneliti
temukan saat observasi, peneliti memiliki beberapa solusi untuk sekolah
tersebut dalam pembelajaran matematika. Adapun solusi yang dapat peneliti
berikan yaitu sebaiknya pembelajaran menggunakan multimedia pembelajaran berupa microsoft
powerpoint dengan alasan:
1.
Bahan ajar (sumber buku)
Sebaiknya bahan ajar
siswa dan guru jangan berbeda. Siswa juga seharusnya dibekali buku paket untuk
mempermudah pemahaman siswa dan bisa menghemat alokasi waktu. jangan hanya lks
yang dimiliki siswa, Karena di lks penjelasan materi sangat sedikit namun lebih
banyak soal-soal. Dengan menggunakan Microsoft power point sesuai dengan landasan filosofis, multimedia
disesuaikan dengan isi pesan/ materi sehingga pada saat terjadinya proses
belajar-mengajar, pembelajaran akan berjalan lebih efektif dikarenakan materi
yang ditampilkan pada Microsoft power point bisa dilihat oleh semua siswa, sehingga
bahan ajar yang dimiliki guru sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang
menjadi pegangan guru dan siswa berbeda, namun harus diingat sumber yang
disajikan harus valid.
2.
Sarana dan prasarana di tingkatkan
Berdasarkan permasalahan yang
terjadi, sebaiknya guru menggunakan multimedia pembelajaran untuk materi “pertidaksamaan pecahan” dengan menggunakan Microsoft
power point karena sesuai dengan landasan
teknologis, multimedia pembelajaran sebaiknya memudahkan pembelajar untuk
belajar. Dengan digunakannya Microsoft power point guru tidak perlu menulis materi yang
menghabiskan waktu lebih banyak. Karena di sekolah ini hanya memiliki 1 infokus
yang digunakan bergantiaan, sebaiknya guru tersebut jauh-jauh hari meminjam
atau meminta izin untuk menggunakan infokus pada hari kamis di waktu siang
untuk menunjang penggunaan multimedia.
3. Pengunaan
multimedia berupa Microsoft power point baik digunakan di kelas ini, karena
sesuai dengan landasan psikologis Kondisi
psikologis setiap individu berbeda-beda karena perbedaan tahap perkembangan,
latar belakang sosial-budaya dan perbedaan factor-faktor yang dibawa sejak
lahir. Untuk mengatasi permaslahan tersebut maka suasana belajar harus disesuaikan
dengan psikologis anak yaitu dapat dibantu dengan multimedia berupa Microsoft power
point. Karena pembelajaran dengan menggunakan Microsoft power point dapat
menarik minat siswa karena tampilan Microsoft power point dapat dibuat
semenarik mungkin dengan mengkombinasikan berupa gambar, video, animasi, audio
dan lainnya.
4. Penggunaan
multimedia berupa Microsoft power point sesuai dengan landasan empiris, dimana pemilihan multimedia pembelajaran
hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru tetapi harus mempertimbangkan
kesesuaian karakteristik peserta didik, dan materi. Penggunaan Microsoft power
point sangat cocok karena guru dapat merancang penyajian materi sesuai
karakteristik siswa di kelas tersebut.
5.
Alokasi waktu yang lebih efektif
Sebaiknya dilakukan
pembaruan ulang jam belajar agar lebih efektif. Karena di sekolah ini, semua pelajaran
Matematika diajarkan 1 kali dalam seminggu dengan durasi 4 jam.
Berdasarkan solusi yang telah penulis paparkan , bagaimana menurut pembaca apakah solusi yang telah penulis berikan berupa penggunaan multimedia pembelajaran berupa microsoft power point terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut telah cocok dan bisa membuat perubahan hasil pembelajaran menjadi lebih baik? atau adakah multimedia lain yang bisa pembaca usulkan untuk penulis terhadap permaslahan yang terjadi di sekolah tersebut?
Berdasarkan solusi yang telah penulis paparkan , bagaimana menurut pembaca apakah solusi yang telah penulis berikan berupa penggunaan multimedia pembelajaran berupa microsoft power point terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut telah cocok dan bisa membuat perubahan hasil pembelajaran menjadi lebih baik? atau adakah multimedia lain yang bisa pembaca usulkan untuk penulis terhadap permaslahan yang terjadi di sekolah tersebut?
Penggunaan multimedia disekolah juga harus memperhatikan fasilitas yang disediakan sekolah seperti keterbatasan sekolah untuk menyediakan proyektor. Media pembelajaran presentasi power point dapat disampaikan apabila tersedia nya proyektor.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPenulis menyatakan salah satu permasalahannya yaitu kenakalan siswa yang menonjol, saya belum memahami bagaimana media yg penulis tawarkan dapat mengatasi permasalahan tersebut...
BalasHapusMenurut saya media yang ditawarkan sudah cukup menarik namun penulis juga harus memperhatikan fasilitas sekolah apakah sudah memadai atau belum. Selain itu media pembelajaran yang baik belum menetukan suatu pembelajaran berhasil. Selain media pembelajaran guru juga harus memperhatikan metode cara guru mengajar dan penguasaan kelas agar hasil yang didapat lebih maksimal.
BalasHapusmenurut saya..medianya sdh cukup menarik dan dapat mempermudah pembeljaran matematik. namun akan lebih baik lagi jika dipadu dengan penampilan video motivasi sebagai motivasi siswa untuk fokus pada mata pelajarannya.
BalasHapus