Selasa, 11 September 2018

Observasi di Salah Satu Sekolah SMAN di Kota Jambi



Hai teman-teman semuanya. Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hasil observasi yang telah saya dan teman saya lakukan di salah satu sekolah yang berada di kota jambi pada hari kamis tanggal 6 September 2018. Berdasarkan observasi yang telah kelompok kami lakukan, kami menemukan banyak permasalan yang terjadi sehingga permasalahan tersebut  menjadi kendala dalam proses belajar-mengajar. Adapun permasalahan-permasalahan yang kami temukan yaitu:

1.   Tidak adanya penggunaan multimedia pada saat proses belajar-mengajar
             Pada saat observasi yang peneliti lakukan, guru yang mengajar tidak menggunakan media ataupun multimedia pembelajaran, dikarenakan sekolah tersebut hanya memiliki 1 infokus dan infokus tersebut digunakan secara bergantian.
2.Ketidakefektifannya waktu belajar
           Di sekolah yang kami observasi, khususnya kelas X IPA 5 mata pelajaran matematika diajarkan setiap hari kamis (1 kali pertemuan dalam seminggu). Pada kelas yang peneliti amati, kelas tersebut mendapatkan pembagian waktu yang kurang efektif yaitu  pada siang hari dari pukul 12.30-15.30 (4 jam). Berdasarkan wawancara peneliti pada pihak guru mengapa hal ini bisa terjadi? sumber menerangkan ada kemungkinan pihak penyusun jadwal mengikuti anjuran k13 dimana pertemuan Matematika langsung diajarkan 4 jam.
 Telah kita ketahui anggapan yang telah berkembang sejak lama bahwa “ matematika adalah mata pelajaran yang menjadi momok yang menakutkan dan membutuhkan tingkat pemikiran yang tinggi”  seharusnya alokasi penempatan waktu pada pelajaran matematika diletakan pada waktu pagi disaat kondisi fisik+otak anak sedang fresh jangan ditempatkan pada waktu siang hari, karena siang hari disebut “waktu rawan”. Rawan ngantuk, rawan focus dalam pelajaran dan rawan-rawan lain
3.   Bahan ajar (sumber buku) yang tidak sesuai
 Pada hari kamis tanggal 6 september 2018, materi yang disampaikan guru tentang “pertidaksamaan pecahan”. Namun, materi tersebut tidak ada di LKS yang menjadi pegangan siswa. Berdasarkan wawancara kelompok kami kepada Guru bersangkutan, siswa memang hanya dibekali LKS, tanpa tambahan buku lain. Sementara materi pertidaksamaan pecahan yang tidak ada di LKS tersebut merupakan salah satu point dari silabus yang harus diajarkan guru. Menurut penuturan guru tersebut, buku dari kemendikbud untuk K13-pun tidak sesuai dengan sylabus.  Seharusnya bahan ajar yang dimiliki guru harus sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang menjadi pegangan guru dan siswa berbeda.
4. Kondisi Kelas
  waktu belajar exact yang kegiatannya dilakukan di siang hari membuat kondisi kelas yang tidak kondusif. Karena, sebagian  siswa tidak bisa berkonsentrasi ketika belajar. Penempatan waktu belajar matematika setelah isoma siang juga menyebabkan siswa tidak tertib. Ketika peneliti bertanya “Mengapa tidak dibuat sebuah peraturan kelas?”  guru tersebut menjawab : saya telah membuatnya, akan tetapi karakter siswa yang nakal memang sulit di atasi.
   Guru juga tidak bisa membuat anak disiplin terhadap waktu. Karena pada saat observasi, peneliti menemukan siwa yang terlambat masuk kelas ± 10 menit setalah proses pembelajaran dimulai. Ada pula siswa yang tidak bisa diam di tempat. Siswa tersebut berjalan-jalan dan berpindah tempat duduk sesuka hatinya. Walaupun siswa tersebut terlambat masuk kelas, berjalan-jalan dan berpindah tempat duduk namun guru tersebut tidak memberikan teguran.
   Permasalahan yang terjadi menyebabkan peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru tersebut tidak membuat peraturan yang mengikat siswa agar siswa segan. Ternyata, faktor waktu siang yang tidak efektif dan kenakalan siswa yang tak biasa, diakui sang guru sebagai penghambat untuk bisa mengendalikan ketertiban kelas.

5.   Kenakalan siswa yang menonjol
Pada saat observasi, peneliti menemukan ada satu siswa yang susah diatur, mau melakukan semaunya sendiri (bebal) seperti berpindah tempat duduk, posisi duduk yang kelewat santai sampai tidur-tiduran di atas meja  sehingga membuat si “anak”  mendapatkan perlakuan yang cukup terlihat berbeda dengan siswa lain.
Namun, ada hal menarik yang peneliti lihat dari siswa tersebut. Siswa tersebut beberapa kali terlihat mencoba me-respect pelajaran dari rekaman ke tiga (07:52). Terlihat dari respon-nya yang ikut menjawab pemecahan masalah bersama yang diajukan guru kepada siswa, atau posisi tiduran yang masih tetap berusaha melihat ke arah guru, membuat peneliti yakin siswa ini masih bisa diajari dengan menggunakan pendekatan perbedaan individu. Hanya saja keefektifan waktu dan karakter siswa tadi membuat guru menyerah lebih dulu.
Walupun banyaknya permasalahan yang terjadi serta adanya factor lain dari segi waktu dan siswa, Peneliti tetap merasakan guru meiliki penguasaan kelas yang bagus. Terlihat dari feedback siswa yang sebagian besar bisa mengikuti pelajaran meskipun banyak kekurangan dari bahan ajar, waktu, dan aktivitas yang mengganggu. Sebuah apresiasi yang bagus untuk penjelasan sang guru yang mampu membuat siswanya paham.

Dari semua permasalahan yang peneliti temukan saat observasi, peneliti memiliki beberapa solusi untuk sekolah tersebut dalam pembelajaran matematika. Adapun solusi yang dapat peneliti berikan yaitu sebaiknya pembelajaran menggunakan  multimedia pembelajaran berupa microsoft powerpoint dengan alasan:

1.      Bahan ajar (sumber buku)
Sebaiknya bahan ajar siswa dan guru jangan berbeda. Siswa juga seharusnya dibekali buku paket untuk mempermudah pemahaman siswa dan bisa menghemat alokasi waktu. jangan hanya lks yang dimiliki siswa, Karena di lks penjelasan materi sangat sedikit namun lebih banyak soal-soal. Dengan menggunakan Microsoft power point sesuai dengan landasan filosofis, multimedia disesuaikan dengan isi pesan/ materi sehingga pada saat terjadinya proses belajar-mengajar, pembelajaran akan berjalan lebih efektif dikarenakan materi yang ditampilkan pada Microsoft power point bisa dilihat oleh semua siswa, sehingga bahan ajar yang dimiliki guru sesuai dengan yang dimilki siswa, jangan yang menjadi pegangan guru dan siswa berbeda, namun harus diingat sumber yang disajikan harus valid.

2.      Sarana dan prasarana di tingkatkan
       Berdasarkan permasalahan yang terjadi, sebaiknya guru menggunakan multimedia pembelajaran untuk materi  “pertidaksamaan pecahan” dengan menggunakan Microsoft power point karena sesuai dengan landasan teknologis, multimedia pembelajaran sebaiknya memudahkan pembelajar untuk belajar. Dengan digunakannya Microsoft power point  guru tidak perlu menulis materi yang menghabiskan waktu lebih banyak. Karena di sekolah ini hanya memiliki 1 infokus yang digunakan bergantiaan, sebaiknya guru tersebut jauh-jauh hari meminjam atau meminta izin untuk menggunakan infokus pada hari kamis di waktu siang untuk menunjang penggunaan multimedia.
3.    Pengunaan multimedia berupa Microsoft power point baik digunakan di kelas ini, karena sesuai dengan landasan psikologis Kondisi psikologis setiap individu berbeda-beda karena perbedaan tahap perkembangan, latar belakang sosial-budaya dan perbedaan factor-faktor yang dibawa sejak lahir. Untuk mengatasi permaslahan tersebut maka suasana belajar harus disesuaikan dengan psikologis anak yaitu dapat dibantu dengan multimedia berupa Microsoft power point. Karena pembelajaran dengan menggunakan Microsoft power point dapat menarik minat siswa karena tampilan Microsoft power point dapat dibuat semenarik mungkin dengan mengkombinasikan berupa gambar, video, animasi, audio dan lainnya.
4.  Penggunaan multimedia berupa Microsoft power point sesuai dengan landasan empiris, dimana pemilihan multimedia pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian karakteristik peserta didik, dan materi. Penggunaan Microsoft power point sangat cocok karena guru dapat merancang penyajian materi sesuai karakteristik siswa di kelas tersebut.
5.      Alokasi waktu yang lebih efektif
Sebaiknya dilakukan pembaruan ulang jam belajar agar lebih efektif. Karena di sekolah ini, semua pelajaran Matematika diajarkan 1 kali dalam seminggu dengan durasi 4 jam.

Berdasarkan solusi yang telah penulis paparkan , bagaimana menurut pembaca apakah solusi yang telah penulis berikan berupa penggunaan multimedia pembelajaran berupa microsoft power point terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut telah cocok dan bisa membuat perubahan hasil pembelajaran menjadi lebih baik? atau adakah multimedia lain yang bisa pembaca usulkan untuk penulis terhadap permaslahan yang terjadi di sekolah tersebut?






5 komentar:

  1. Penggunaan multimedia disekolah juga harus memperhatikan fasilitas yang disediakan sekolah seperti keterbatasan sekolah untuk menyediakan proyektor. Media pembelajaran presentasi power point dapat disampaikan apabila tersedia nya proyektor.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Penulis menyatakan salah satu permasalahannya yaitu kenakalan siswa yang menonjol, saya belum memahami bagaimana media yg penulis tawarkan dapat mengatasi permasalahan tersebut...

    BalasHapus
  4. Menurut saya media yang ditawarkan sudah cukup menarik namun penulis juga harus memperhatikan fasilitas sekolah apakah sudah memadai atau belum. Selain itu media pembelajaran yang baik belum menetukan suatu pembelajaran berhasil. Selain media pembelajaran guru juga harus memperhatikan metode cara guru mengajar dan penguasaan kelas agar hasil yang didapat lebih maksimal.

    BalasHapus
  5. menurut saya..medianya sdh cukup menarik dan dapat mempermudah pembeljaran matematik. namun akan lebih baik lagi jika dipadu dengan penampilan video motivasi sebagai motivasi siswa untuk fokus pada mata pelajarannya.

    BalasHapus