hai teman-teman, pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas landasan teoritis multimedia pembelajaran. pada kesempatan kali ini, kita akan membahas prinsip-prinsip multimedia pembelajaran.
Salah
satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan
atau informasi kepada penerima yaitu siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan
dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Pesan dan
informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula
pesan yang amat kompleks. Akan tetapi, yang terpenting adalah media itu
disiapkan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kemampuan siswa, serta siswa
dapat aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu,
perlu dirancang dan dikembangkan lingkungan pembelajaran yang interaktif yang
dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan belajar perorangan dengan menyiapkan
kegiatan pembelajaran dengan medianya yang efektif guna menjamin terjadinya
pembelajaran.
Pesan-pesan
multimedia hendaknya dirancang dengan mengikuti cara belajar manusia (cara otak
bekerja). Richard E. Mayer (2009) menyatakan pesan multimedia yang dirancang
dengan tata cara otak manusia bekerja akan lebih mungkin pembelajaran menjadi
lebih bermakna dibandingkan dengan pesan multimedia yang tidak dirancang dengan
mengikuti cara kerja otak manusia. Oleh karena itu Richard E. Mayer menawarkan
lima tahapan dalam merancan pesan multimedia yaitu; (1) memilih kata-kata yang
relevan dari teks dan narasi yang tersaji, (2) memilih gambar-gambar yang
relevan dari ilustrasi yang tersaji, (3) mengatur kata-kata yang terpilih
kedalam represendasi verbal yang koheren, (4 ) mengatur gambar-gamabr yang
tersaji kedalam representasi visual yang koheren dan (5) memadukan representasi
verbal dan representasi visual secara koheren.
Untuk
memperoleh multimedia yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dan memiliki
kualitas tampilan yang baik maka desain pesan multimedia perlu dipadukan dengan
prinsip-prinsip desain multimedia. Prinsip-prinsip tersebut telah dibuktikan
melalui penelitian oleh Richard E Mayer dengan menggunakan tes retensi
(mengingat) dan tes transfer (memahami). Lebih lanjut Richard E. Mayer (2001)
menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda.
Menurut Mayer ada 12 prinsip dalam mendesain multimedia pembelajaran yang dapat
diterapkan di Pembelajaran. 12 prinsip desain multimedia pembelajaran,
yaitu :
1. Prinsip
multimedia
Prinsip
multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan
gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan
dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks
ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Mayer
(2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara
bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental
verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika
hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil
untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk
membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial.
2. Prinsip
keterdekatan ruang (spatial contiguity principle)
Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa
siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang
terkait disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan (Mayer,
2009:119). Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip keterdekatan ruang adalah
saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan di suatu layar, maka murid
tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk secara visual mencari
mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan mereka bersamaan
di dalam memori kerja pada waktu yang sama. Gambar dan teks/ kata yang
berjauhan akan menyulitkan bagi siswa untuk memahami-nya atau bisa
jadi bias makna yang disebabkan tek dan gambar yang berjauhan tersebut.
3. Prinsip keterdekatan waktu
Prinsip
keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika
kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video)
disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141). Mayer (2009:141)
beralasan bahwa saat bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam
waktu bersamaan, siswa lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas
keduanya dalam memori kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan
siswa untuk membangun hubungan mental antara representasi verbal dan
representasi visual. Siswa dapat belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar
terkait disajikan secara simultan (berbarengan) daripada suksesif (bergantian).
Untuk meningkatkan pemehaman siswa gambar dan teks/kata sebaiknya
disajikan secara berbarengan dalam on-screen bukan bergantian sebab jika
disajikan secara bergantian dapat menyebabkan terjadi kesalahan dalam memproses
informasi yaitu hubungan mental antara representasi verbal dan representasi
visual tidak terjadi.
4. Prinsip
Koherensi
Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa
bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia
(Mayer, 2009:167). Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara,
video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini
yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang
tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana
atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari.
Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan
macam-macam.
5. Prinsip
Modalitas Belajar
Prinsip
modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan
narasi termasuk video (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata
tercetak di layar (Mayer, 2009:197). Jadi, lebih baik animasi atau video
plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang.
Hal ini, sangat mengganggu.
6. Prinsip
Redudansi
Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa
belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan
teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah saran
dari Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di
layar ke gambar yang sedang dinarasikan.
7. Prinsip
Personalisasi
Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan
gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer,
2011:182).
8. Prinsip
Interaktivitas
Orang
belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang
dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang
belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya
lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia
pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan
daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti
dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching,
game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain
akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9. Prinsip
Sinyal
Siswa
belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan
yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi
dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian
(focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat
penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu
1 10.
Prinsip perbedaan individual
Pengaruh
desain lebih kuat terhadap siswa berpengatahuan rendah daripada
siswa berpengetahuan tinggi, dan siswa berkemampuan spatial tinggi lebih baik
daripada siswa berspasial rendah. Penggunaan multimedia sebainya digunakan
padasiswa yang belum mempelajari materi bukan untuk mengulang
(remidi), sebab siswa yang memiliki pengetahuan kurang tertarik pada
unsur-unsur multimedia. Begitujuga siswa yang kemampuan spasial rendah juga
tidak begitu tertarik dengan tampilan multimedia.
1 11. Prinsip
Praktek
Interaksi
adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat
meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang
sedang dipelajari.
12. Prinsip
Segmentasi dan Prinsip Pra-latihan
Prinsip
segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi
segmen-segmen yang kecil (Clark & Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi
pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan
dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya. Clark
& Mayer (2011:210) beralasan bahwa saat siswa menerima sajian yang
berkelanjutan dan berisi konsep-konsep yang saling berhubungan, hasilnya adalah
sistem kognitif menjadi kelebihan muatan, terlalu banyak pemrosesan yang
dibutuhkan. Siswa tidak mempunyai kapasitas kognitif yang cukup untuk
dilibatkan dalam pemrosesan esensial yang dibutuhkan untuk memahami materi
tersebut. Solusi masalah di atas adalah membagi-bagi materi pelajaran menjadi
beberapa bagian yang dapat diatur, misalnya dengan memberi tombol “Lanjutkan”.
Prinsip
pra-latihan menyarankan untuk memastikan siswa mengetahui nama dan
karakteristik konsep-konsep penting (Clark & Mayer, 2011:212). Sebelum
siswa belajar proses atau mengerjakan latihan pada suatu multimedia interaktif,
hendaknya siswa diberi materi konsep-konsep penting berkaitan dengan proses
yang akan dipelajari atau latihan yang akan dikerjakan. Contohnya, sebelum
siswa melihat video demonstrasi cara membuat tabel basis data, siswa perlu
mengetahui apa itu tabel, field, dan primary key.
Clark
& Mayer (2011:215) menyatakan bahwa pra latihan dapat membantu pemula untuk
mengelola pemrosesan materi kompleks dengan mengurangi jumlah pemrosesan
esensial yang mereka lakukan saat presentasi disajikan. Saat siswa sudah
mengetahui apa itu primary key, mereka bisa mengalokasikan proses kognitif
untuk membangun model mental bagaimana peran primary key dalam perancangan
sebuah tabel. Dengan demikian, alasan diperlukannya prinsip pra-latihan adalah
prinsip ini membantu pengelolaan pemrosesan esensial yang dilakukan siswa
dengan mendistribusikan materi-materi ke dalam bagian pra-latihan dari materi
pembelajaran.
dari prinsip-prinsip desain diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila saat mendesain multimedia pembelajaran jika kita menggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif, maka kita bisa mengakomodir perbedaan modalitas belajar
Untuk
menghasilkan media pembelajaran yang baik perlu dilakukan dengan menempuh
prosedur yang benar dalam proses pengembangannya. Soulier sebagaimana dikutip
oleh Sunaryo Sunarto (2002) menjelaskan bahwa tahapan pengembangan media
khususnya yang berbantuan komputer meliputi plan, development, dan evaluation.
William
W Lee dalam bukunya Multimedia Based Instructinal Design menguraikan
lima tahap prosedur pengembangan media yang meliputi analysis, design,
development, implementation, danevaluation (2004: 161)
1. Analysis
Sebelum
mengembangkan media, terlebih dahulu harus dilakukan analisis kebutuhan.
Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan cara observasi lapangan atau melalui
kajian pustaka.
2. Design
Tahap
desain mencakup desain pembelajaran dan desain produk media. Tahap desain
pembelajaran meliputi komponen: identitas, standar kompetensi dan kompetensi
dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, rancangan evaluasi, dan sumber
bahan. Sedangkan desain produk media mencakup elemen: struktur diagram
alir, storyboard, dan elemen gambar atau animasi.
3. Development
Tahap
ini adalah tahapan produksi media sesuai dengan desain yang direncanakan. Pada
tahap ini dilakukan assembling (perakitan) berbagai elemen media yang
diperlukan menjadi satu kesatuan media utuh yang siap digunakan.
4. Evaluation
Evaluasi
terhadap media pembelajaran dilakukan dengan dengan cara validasi oleh ahli
materi dan ahli media, untuk mengetahui kualitas media yang telah dihasilkan.
Selain dengan validasi ahli, evaluasi juga dilakukan dalam bentuk ujicoba oleh
pengguna. Ujicoba media dilakukan dengan tiga tahap, yaitu ujicoba perorangan,
ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan.
Ujicoba
perorangan dilakukan terhadap seorang peserta didik yang mewakili kelompok yang
akan menjadi pengguna media tersebut. Untuk keperluan ujicoba, sebaiknya
dipilih peserta didik yang kemampuannya sedikit di bawah kemampuan rata-rata.
Ujicoba
terhadap kelompok kecil dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil
ujicoba perorangan. Ujicoba kelompok kecil ini diberikan terhadap 5-8 peserta
didik yang memiliki kemampuan rata-rata kelompok. Setelah ujicoba kelompok
kecil selesai, maka perlu dilakukan perbaikan atau revisi sesuai dengan temuan
yang ada.
Ujicoba
lapangan dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang menjadi target
penggunaan media, dalam situasi belajar yang sebenarnya. Jika tidak
memungkinkan untuk mengujicobakan terhadap seluruh peserta didik secara
lengkap, maka dapat diambil sampel sejumlah 20-30 orang.
Berdasarkan penjelasa diatas, penulis masih belum memahami beberapa penjelasan, sehingga muncul beberapa pertanyaan yaitu:
Berdasarkan 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang telah dijelaskan,Apakah pada saat kita mendesain multimedia pembelajaran, semua prinsip yang ada harus diterapkan secara
bersamaan? dan jika salah satu prinsip tersebut tidak bisa kita terapkan pada saat mendesain multimedia pembelajaran, apakah masih bisa dikatakan multimedia tersebut baik?
selanjutnya, pada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran salah satunya ada prinsip redudansi. yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa maksud dari prinsip redudansi ?
selanjutnya, pada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran salah satunya ada prinsip redudansi. yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa maksud dari prinsip redudansi ?
Daftar Pustaka
https://wirawax.wordpress.com/2014/08/14/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/ (dikunjungi pada 2 September 2018)
http://sriwahyunioktavia20.blogspot.com/2017/02/normal-0-false-false-false-ha-x-none-x.html (dikunjungi pada 2 September 2018)
https://alphamedia-ind.com/2018/03/11/prinsip-multimedia-pembelajaran/ (dikunjungi pada 2 September 2018)
https://hcfelany.wordpress.com/2014/05/20/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/
1.
1.
Sebaiknya dalam mendesain multimedia pembelajaran, pendesain atau pengembang hendaknya mengetahui dan menerapkan12 prinsip-prinsip tersebut. Jika dalam mendesain dan menerapkan multimedia, tidak menggunakan 12 prinsip tersebut secara menyeluruh, multimedia harus tetap memiliki hakikat fungsi dari penggunaan multimedia itu sendiri.
BalasHapusPrinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Maksudnya siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
Sebelumnya maaf jika ada kesalahan dalam kata-kata terlebih jawaban yang tidak memuaskan.
BalasHapus1. Mengenai 12 prinsip multimedia, sebenarnya boleh2 saja kita tidak menggunakan 12 prinsip itu secara bersamaan namun harus memperhatikan situasi dan kondisi para siswa terlebih dahulu.
2. Prinsip redundansi menganggap bahwa siswa akan belajar lebih baik kalo menggunakan gambar dan narasi saja jika di bandingkan dengan gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215).
Clark & Mayer (2011:125) menyarankan untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan.
Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan.
Contoh konkretnya saat kita menonton film yg berbahasa asing kita pasti lebih fokus pada subtitle dari pada filmnya.
Mungkin itu dari saya semoga bisa menjawab permasalahan penulis.
Artikelnya sangat menarik...
BalasHapusmenanggapi masalah pertama, menurut saya seorang pengembang multimedia, seharusnya menerapkan 12 prinsip tersebut untuk mengembangkan suatu media...
seperti yg telah diketahu, bahwa prinsip merupakan Asas (pokok dasar berpikir), jadi prinsip multimedia ini adalah pokok dasar dalam pembuatan/pengembangan suatu media..
Namun, jika salah satu pronsip tsb tidak termuat dalam suatu media, saya berpendapat media tsb dikatan baik jika output dari penggunaan media tsb juga baik..
Untuk masalah kedua, saya berpendapat bahwa maksud prinsip redudansi yaitu landasan dasar untuk mengembangkan suatu multimedia yang berupa animasi dan narasi tanpa menggunakan teks. Artinya,jika menggunakan teks,maka siswa tidak akan fokus pada materi yang dinarasikan, tetapi juga membaca teks yang disajikan..
1. Menurut saya tidak harus semua prinsip media harus diterapkan karena setiap media pengajaran memiliki keampuhan masing–masing. Ketika suatu media akan dipilih, ketika suatu media akan dipergunakan, ketika itulah beberapa prinsip perlu guru perhatikan dan pertimbangkan. Winataputra (2003) mengemukakan bahwa, “ Beberapa prinsip pemilihan media pembelajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, yaitu : (a) tujuan pemilihan, (b) karateristik media pembelajaran dan (c) alternatif pilihan. Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apabila dalam pemilihan media pembelajaran tidak memiliki tujuan yang jelas maka, pemanfaatan media pembelajaran akan bergeser dari makna yang sebenarnya. Di mana makna yang terkandung dalam pemanfaatan media pembelajaran adalah untuk memotivasi belajar siswa agar lebih giat dan tekun serta memahami dengan jelas apa yang disajikan oleh guru.
BalasHapus2. maksud dari prinsip redudansi yaitu iswa akan belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video, daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar. Maksudnya kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.
Saya memcoba menanggapi masalah.
BalasHapuspertama, seorang pengembang multimedia, seharusnya menerapkan 12 prinsip tersebut untuk mengembangkan suatu media...
seperti yg telah diketahu, bahwa prinsip itu sudah menjadi pokok dasar berpikir, jadi prinsip multimedia ini adalah pokok dasar untuk mengembangkan media.
Tapi, jika salah satu prinsip dari 12 itu tidak termuat dalam suatu media tetap bisa dikatakan baik. Kembalai lagi strategi yang diterapkan oleh pengguna.
kedua, saya pikir bahwa maksud dari prinsip redudansi yaitu dasar untuk mengembangkan suatu multimedia yang berupa animasi dan narasi tanpa menggunakan teks. Artinya,jika menggunakan teks,maka siswa tidak akan fokus pada materi yang dinarasikan.
Menurut saya semua prinsip tersebut penting karena jika salah satu prinsip tidak berjalan dengan baik, maka proses pembelajaran bisa dikatakan akan berlangsung tidak efektif.dalam membuat pembelajaran berbasis multimedia ini 12 prinsip multimedia tersebut hrus terpenuhi agar memudahkan kita dalam menjelaskan materi dan siswa pun dapat lebih memahami materi yang kita jelaskan. misalnya jika prinsip koherensi tidak terlaksana maka ketika kita sedang menjelaskan, perhatian siswa akan teralihkan karena gambar-gambar animasi atau kata-kata yang tidak relevan dengan materi. sehingga proses pembelajaran pun tidak berlangsung dengan baik dan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
BalasHapusMenanggapi pertanyaan keddua dari penulis, Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan. Clark & Mayer (2011:135) juga mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
BalasHapusmenanggapi pertanyaan pertama sebaiknya dalam mendesain media pembelajaran terdapat prinsip multimedia jika salah satu dari prinsip tidak terdapat dalam media tersebut menurut saya media tersebut dapat dikatakan baik apabila memiliki hasil yang baik
BalasHapusmenanggapi masalah kedua, dimana Prinsip ini menyatakan bahwa orang belajar lebih baik dari gambar dan narasi ketimbang dari gambar, narasi, serta teks tercetak. maksudnya disini ketika kita membuat media yang menampilkan gambar, narasi serta teks tercetak maka siswa akan lebih terfokus pada tesk sehingga siswa tidak memperhatikan gambar dan narasi. kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, tidak perlu ditambah dengan teks yang panjang.
BalasHapus