Minggu, 02 September 2018

Prinsip-prinsip Multimedia Pembelajaran


hai teman-teman, pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas landasan teoritis multimedia pembelajaran. pada kesempatan kali ini, kita akan membahas prinsip-prinsip multimedia pembelajaran.
 Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Pesan dan informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula pesan yang amat kompleks. Akan tetapi, yang terpenting adalah media itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kemampuan siswa, serta siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perlu dirancang dan dikembangkan lingkungan pembelajaran yang interaktif yang dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan belajar perorangan dengan menyiapkan kegiatan pembelajaran dengan medianya yang efektif guna menjamin terjadinya pembelajaran.
            Pesan-pesan multimedia hendaknya dirancang dengan mengikuti cara belajar manusia (cara otak bekerja). Richard E. Mayer (2009) menyatakan pesan multimedia yang dirancang dengan tata cara otak manusia bekerja akan lebih mungkin pembelajaran menjadi lebih bermakna dibandingkan dengan pesan multimedia yang tidak dirancang dengan mengikuti cara kerja otak manusia. Oleh karena itu Richard E. Mayer menawarkan lima tahapan dalam merancan pesan multimedia yaitu; (1) memilih kata-kata yang relevan dari teks dan narasi yang tersaji, (2) memilih gambar-gambar yang relevan dari ilustrasi yang tersaji, (3) mengatur kata-kata yang terpilih kedalam represendasi verbal yang koheren, (4 ) mengatur gambar-gamabr yang tersaji kedalam representasi visual yang koheren dan (5) memadukan representasi verbal dan representasi visual secara koheren. 
Untuk memperoleh multimedia yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dan memiliki kualitas tampilan yang baik maka desain pesan multimedia perlu dipadukan dengan prinsip-prinsip desain multimedia. Prinsip-prinsip tersebut telah dibuktikan melalui penelitian oleh Richard E Mayer dengan menggunakan tes retensi (mengingat) dan tes transfer (memahami). Lebih lanjut Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Menurut Mayer ada 12 prinsip dalam mendesain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran. 12 prinsip desain multimedia pembelajaran, yaitu :
1.   Prinsip multimedia

Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial.
2.   Prinsip keterdekatan ruang (spatial contiguity principle)
Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan (Mayer, 2009:119). Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip keterdekatan ruang adalah saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan di suatu layar, maka murid tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk secara visual mencari mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan mereka bersamaan di dalam memori kerja pada waktu yang sama. Gambar dan teks/ kata yang berjauhan akan  menyulitkan bagi siswa untuk memahami-nya atau bisa jadi bias makna yang disebabkan tek dan gambar yang berjauhan tersebut.
3.    Prinsip keterdekatan waktu
Prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan) (Mayer, 2009:141). Mayer (2009:141) beralasan bahwa saat bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam waktu bersamaan, siswa lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam memori kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan siswa untuk membangun hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual. Siswa dapat belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar terkait disajikan secara simultan (berbarengan) daripada suksesif (bergantian). Untuk  meningkatkan pemehaman siswa gambar dan teks/kata sebaiknya disajikan secara berbarengan dalam on-screen bukan bergantian sebab jika disajikan secara bergantian dapat menyebabkan terjadi kesalahan dalam memproses informasi yaitu hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual tidak terjadi.
     4.    Prinsip Koherensi
                 Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra               disisihkan dari sajian multimedia (Mayer, 2009:167). Orang belajar lebih baik ketika kata-kata,      gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang      sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu.              Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik                perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang            perlu       dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
   5.    Prinsip Modalitas Belajar
          Prinsip modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi           termasuk video (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar (Mayer,      2009:197).  Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah         pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.                                        
6. Prinsip Redudansi
     Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi                daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini          adalah saran dari Clark & Mayer (2011:125) untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke          gambar yang sedang dinarasikan.
   7.   Prinsip Personalisasi
Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya       percakapan dalam narasi daripada gaya formal (Clark & Mayer, 2011:182). 
8. Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9.   Prinsip Sinyal
Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu
1         10.  Prinsip perbedaan individual
Pengaruh desain lebih kuat terhadap siswa berpengatahuan rendah  daripada siswa berpengetahuan tinggi, dan siswa berkemampuan spatial tinggi lebih baik daripada siswa berspasial rendah. Penggunaan multimedia sebainya digunakan padasiswa yang belum mempelajari  materi bukan untuk mengulang (remidi), sebab siswa yang memiliki pengetahuan kurang tertarik pada unsur-unsur multimedia. Begitujuga siswa yang kemampuan spasial rendah juga tidak begitu tertarik dengan tampilan multimedia. 
1          11. Prinsip Praktek                                
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
                   12.  Prinsip Segmentasi dan Prinsip Pra-latihan
Prinsip segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi segmen-segmen yang kecil (Clark & Mayer, 2011:207). Saat sebuah materi pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya. Clark & Mayer (2011:210) beralasan bahwa saat siswa menerima sajian yang berkelanjutan dan berisi konsep-konsep yang saling berhubungan, hasilnya adalah sistem kognitif menjadi kelebihan muatan, terlalu banyak pemrosesan yang dibutuhkan. Siswa tidak mempunyai kapasitas kognitif yang cukup untuk dilibatkan dalam pemrosesan esensial yang dibutuhkan untuk memahami materi tersebut. Solusi masalah di atas adalah membagi-bagi materi pelajaran menjadi beberapa bagian yang dapat diatur, misalnya dengan memberi tombol “Lanjutkan”.
Prinsip pra-latihan menyarankan untuk memastikan siswa mengetahui nama dan karakteristik konsep-konsep penting (Clark & Mayer, 2011:212). Sebelum siswa belajar proses atau mengerjakan latihan pada suatu multimedia interaktif, hendaknya siswa diberi materi konsep-konsep penting berkaitan dengan proses yang akan dipelajari atau latihan yang akan dikerjakan. Contohnya, sebelum siswa melihat video demonstrasi cara membuat tabel basis data, siswa perlu mengetahui apa itu tabel, field, dan primary key.
Clark & Mayer (2011:215) menyatakan bahwa pra latihan dapat membantu pemula untuk mengelola pemrosesan materi kompleks dengan mengurangi jumlah pemrosesan esensial yang mereka lakukan saat presentasi disajikan. Saat siswa sudah mengetahui apa itu primary key, mereka bisa mengalokasikan proses kognitif untuk membangun model mental bagaimana peran primary key dalam perancangan sebuah tabel. Dengan demikian, alasan diperlukannya prinsip pra-latihan adalah prinsip ini membantu pengelolaan pemrosesan esensial yang dilakukan siswa dengan mendistribusikan materi-materi ke dalam bagian pra-latihan dari materi pembelajaran.
dari prinsip-prinsip desain diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila saat mendesain multimedia pembelajaran jika kita menggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif, maka kita bisa mengakomodir perbedaan modalitas belajar

Untuk menghasilkan media pembelajaran yang baik perlu dilakukan dengan menempuh prosedur yang benar dalam proses pengembangannya. Soulier sebagaimana dikutip oleh Sunaryo Sunarto (2002) menjelaskan bahwa tahapan pengembangan media khususnya yang berbantuan komputer meliputi plan, development, dan evaluation.
William W Lee dalam bukunya Multimedia Based Instructinal Design  menguraikan lima tahap prosedur pengembangan media yang meliputi analysis, design, development, implementation, danevaluation (2004: 161)
1.   Analysis
Sebelum mengembangkan media, terlebih dahulu harus dilakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan cara observasi lapangan atau melalui kajian pustaka.
2.   Design
Tahap desain mencakup desain pembelajaran dan desain produk media. Tahap desain pembelajaran meliputi komponen: identitas, standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, rancangan evaluasi, dan sumber bahan. Sedangkan desain produk media   mencakup elemen: struktur diagram alir, storyboard, dan elemen gambar atau animasi.
3.   Development
Tahap ini adalah tahapan produksi media sesuai dengan desain yang direncanakan. Pada tahap ini dilakukan assembling (perakitan) berbagai elemen media yang diperlukan menjadi satu kesatuan media utuh yang siap digunakan. 
                     4. Evaluation
Evaluasi terhadap media pembelajaran dilakukan dengan dengan cara validasi oleh ahli materi dan ahli media, untuk mengetahui kualitas media yang telah dihasilkan. Selain dengan validasi ahli, evaluasi juga dilakukan dalam bentuk ujicoba oleh pengguna. Ujicoba media dilakukan dengan tiga tahap, yaitu ujicoba perorangan, ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan.
Ujicoba perorangan dilakukan terhadap seorang peserta didik yang mewakili kelompok yang akan menjadi pengguna media tersebut. Untuk keperluan ujicoba, sebaiknya dipilih peserta didik yang kemampuannya sedikit di bawah kemampuan rata-rata.
Ujicoba terhadap kelompok kecil dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil ujicoba perorangan. Ujicoba kelompok kecil ini diberikan terhadap 5-8 peserta didik yang memiliki kemampuan rata-rata kelompok. Setelah ujicoba kelompok kecil selesai, maka perlu dilakukan perbaikan atau revisi sesuai dengan temuan yang ada.
Ujicoba lapangan dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang menjadi target penggunaan media, dalam situasi belajar yang sebenarnya. Jika tidak memungkinkan untuk mengujicobakan terhadap seluruh peserta didik secara lengkap, maka dapat diambil sampel sejumlah 20-30 orang.

Berdasarkan penjelasa diatas, penulis masih belum memahami beberapa penjelasan, sehingga muncul beberapa pertanyaan yaitu:
Berdasarkan 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang telah dijelaskan,Apakah pada saat kita mendesain multimedia pembelajaran, semua prinsip yang ada harus diterapkan secara bersamaan? dan jika salah satu prinsip tersebut tidak bisa kita terapkan pada saat mendesain multimedia pembelajaran, apakah masih bisa dikatakan multimedia tersebut baik?
selanjutnya, pada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran salah satunya ada prinsip redudansi. yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa maksud dari prinsip redudansi ? 

Daftar Pustaka
https://alphamedia-ind.com/2018/03/11/prinsip-multimedia-pembelajaran/                           (dikunjungi pada 2 September 2018)
https://hcfelany.wordpress.com/2014/05/20/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/
 (dikunjungi pada 2 September 2018)




1.     
1.      





9 komentar:

  1. Sebaiknya dalam mendesain multimedia pembelajaran, pendesain atau pengembang hendaknya mengetahui dan menerapkan12 prinsip-prinsip tersebut. Jika dalam mendesain dan menerapkan multimedia, tidak menggunakan 12 prinsip tersebut secara menyeluruh, multimedia harus tetap memiliki hakikat fungsi dari penggunaan multimedia itu sendiri.


    Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi                daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Maksudnya siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.

    BalasHapus
  2. Sebelumnya maaf jika ada kesalahan dalam kata-kata terlebih jawaban yang tidak memuaskan.
    1. Mengenai 12 prinsip multimedia, sebenarnya boleh2 saja kita tidak menggunakan 12 prinsip itu secara bersamaan namun harus memperhatikan situasi dan kondisi para siswa terlebih dahulu.
    2. Prinsip redundansi menganggap bahwa siswa akan belajar lebih baik kalo menggunakan gambar dan narasi saja jika di bandingkan dengan gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215).
    Clark & Mayer (2011:125) menyarankan untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan.

    Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan.
    Contoh konkretnya saat kita menonton film yg berbahasa asing kita pasti lebih fokus pada subtitle dari pada filmnya.
    Mungkin itu dari saya semoga bisa menjawab permasalahan penulis.

    BalasHapus
  3. Artikelnya sangat menarik...
    menanggapi masalah pertama, menurut saya seorang pengembang multimedia, seharusnya menerapkan 12 prinsip tersebut untuk mengembangkan suatu media...
    seperti yg telah diketahu, bahwa prinsip merupakan Asas (pokok dasar berpikir), jadi prinsip multimedia ini adalah pokok dasar dalam pembuatan/pengembangan suatu media..
    Namun, jika salah satu pronsip tsb tidak termuat dalam suatu media, saya berpendapat media tsb dikatan baik jika output dari penggunaan media tsb juga baik..

    Untuk masalah kedua, saya berpendapat bahwa maksud prinsip redudansi yaitu landasan dasar untuk mengembangkan suatu multimedia yang berupa animasi dan narasi tanpa menggunakan teks. Artinya,jika menggunakan teks,maka siswa tidak akan fokus pada materi yang dinarasikan, tetapi juga membaca teks yang disajikan..

    BalasHapus
  4. 1. Menurut saya tidak harus semua prinsip media harus diterapkan karena setiap media pengajaran memiliki keampuhan masing–masing. Ketika suatu media akan dipilih, ketika suatu media akan dipergunakan, ketika itulah beberapa prinsip perlu guru perhatikan dan pertimbangkan. Winataputra (2003) mengemukakan bahwa, “ Beberapa prinsip pemilihan media pembelajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, yaitu : (a) tujuan pemilihan, (b) karateristik media pembelajaran dan (c) alternatif pilihan. Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apabila dalam pemilihan media pembelajaran tidak memiliki tujuan yang jelas maka, pemanfaatan media pembelajaran akan bergeser dari makna yang sebenarnya. Di mana makna yang terkandung dalam pemanfaatan media pembelajaran adalah untuk memotivasi belajar siswa agar lebih giat dan tekun serta memahami dengan jelas apa yang disajikan oleh guru.
    2. maksud dari prinsip redudansi yaitu iswa akan belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video, daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar. Maksudnya kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.

    BalasHapus
  5. Saya memcoba menanggapi masalah.

    pertama, seorang pengembang multimedia, seharusnya menerapkan 12 prinsip tersebut untuk mengembangkan suatu media...
    seperti yg telah diketahu, bahwa prinsip itu sudah menjadi pokok dasar berpikir, jadi prinsip multimedia ini adalah pokok dasar untuk mengembangkan media.
    Tapi, jika salah satu prinsip dari 12 itu tidak termuat dalam suatu media tetap bisa dikatakan baik. Kembalai lagi strategi yang diterapkan oleh pengguna.

    kedua, saya pikir bahwa maksud dari prinsip redudansi yaitu dasar untuk mengembangkan suatu multimedia yang berupa animasi dan narasi tanpa menggunakan teks. Artinya,jika menggunakan teks,maka siswa tidak akan fokus pada materi yang dinarasikan.

    BalasHapus
  6. Menurut saya semua prinsip tersebut penting karena jika salah satu prinsip tidak berjalan dengan baik, maka proses pembelajaran bisa dikatakan akan berlangsung tidak efektif.dalam membuat pembelajaran berbasis multimedia ini 12 prinsip multimedia tersebut hrus terpenuhi agar memudahkan kita dalam menjelaskan materi dan siswa pun dapat lebih memahami materi yang kita jelaskan. misalnya jika prinsip koherensi tidak terlaksana maka ketika kita sedang menjelaskan, perhatian siswa akan teralihkan karena gambar-gambar animasi atau kata-kata yang tidak relevan dengan materi. sehingga proses pembelajaran pun tidak berlangsung dengan baik dan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

    BalasHapus
  7. Menanggapi pertanyaan keddua dari penulis, Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar (Mayer, 2009:215). Implikasi dari hal ini adalah untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan. Clark & Mayer (2011:135) juga mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.

    BalasHapus
  8. menanggapi pertanyaan pertama sebaiknya dalam mendesain media pembelajaran terdapat prinsip multimedia jika salah satu dari prinsip tidak terdapat dalam media tersebut menurut saya media tersebut dapat dikatakan baik apabila memiliki hasil yang baik

    BalasHapus
  9. menanggapi masalah kedua, dimana Prinsip ini menyatakan bahwa orang belajar lebih baik dari gambar dan narasi ketimbang dari gambar, narasi, serta teks tercetak. maksudnya disini ketika kita membuat media yang menampilkan gambar, narasi serta teks tercetak maka siswa akan lebih terfokus pada tesk sehingga siswa tidak memperhatikan gambar dan narasi. kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, tidak perlu ditambah dengan teks yang panjang.

    BalasHapus